Salam Pembuka

Kehidupan adalah hal yang tidak dapat diprediksikan, tetapi kualitas hidup sangat butuh untuk direncanakan..
Hasil baik yang dicapai hari ini merupakan buah dari rencana matang yang ditentukan hari kemarin..
Maka berbuatlah baiklah untuk hari ini, sembari memikirkan suatu yang lebih baik untuk hari esok..

Minggu, 16 November 2014

MASA TRANSISI ITU TETAP ADA



Sudah banyak kata-kata mutiara yang terungkap oleh para kalangan bijak untuk mengungkapkan filosofi dari proses perubahan. Ya, dunia ini berubah! Gaya hidup, ukuran tubuh, keuangan negara, teknologi, penguasa kerajaan, dan lain-lain; semua berubah. Ungkapan paling keren tentang perubahan itu adalah “tidak ada yang tidak berubah di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri”. Semua karena Tuhan menjamin bahwa salah satu ciri makhluk hidup adalah dia bergerak, tumbuh, dan berkembang biak. Hanya dengan berubah kita bisa mengimbangi perubahan, hanya dengan berubah kita bisa mensejajarkan diri dengan keinginan alam dan juga amanat Tuhan. 

Tentu saja, kita semua punya impian dan harapan. Hidup bukan hanya untuk numpang makan, minum, dan buang air, sambil menunggu datangnya panggilan untuk kembali kepada Pencipta kita. Orang tua kita keras mendidik mulai dari rumah, kemudian menyekolahkan di institusi pendidikan terbaik, lalu dengan berderai air mata mereka melepas kita untuk melanjutkan studi ke luar daerah. Itu semua karena apa? Karena mereka juga punya naluri untuk merubah anaknya. Ketika anaknya berubah, mereka tahu bahwa nasib mereka juga akan berubah. 

Selasa, 07 Oktober 2014

KOTA BIMA; MILIK YANG TUA, TANGGUNG JAWAB YANG MUDA

Jangan mengkritik orang bodoh, karena dia akan membencimu. Tapi kritiklah orang berakal, karena dia akan mencintaimu.. (Sayyidina Ali)
 Setiap hari saya berpikir keras bagaimana caranya agar Kota Bima bisa cukup ramah bagi generasi yang akan datang. Biarkan kita yang menanggung panasnya terik matahari yang selalu menyengat lebih dari 35 derajat celcius setiap hari di musim panas. Biarkan kita yang menanggung perguliran musim kemarau dan hujan yang semakin tak menentu. Biarkan kita yang mengecap air bah (banjir) yang sudah tidak malu-malu lagi merembes ke jalan raya, banjir yang sudah tidak segan memnghanyutkan rumah-rumah kayu non-permanen milik penduduk.

Sesungguhnya tiada sesuatu yang terjadi tanpa sebuah alasan, tiada aksi tanpa reaksi, pun tiada yang kita tanam melainkan kita akan memetik hasilnya. Dan hingga detik ini pun kita belum tersadar akan semua itu; apa dampak dari deretan pohon rindang di pinggir jalan yang dibabat habis? Apa dampak dari pegunungan hijau yang dibakar dengan ribuan alasan klise? Apa dampak dari pembangunan komersial yang mengesampingkan daerah resapan air? Apa dampak dari sampah rumah tangga yang dibuang dengan egois di sepanjang daerah aliran sungai? Generasi kita perlu bertanggung jawab atas apa yang disebut sebagai “nasi hampir menjadi bubur” tersebut.

Jumat, 11 Juli 2014

Anda Lebih Suka Meng-kritik ATAU Di-kritik? Renungkan Tulisan Ini!

Kehausan kita akan persetujuan, sama besarnya dengan ketakutan kita terhadap kritik.
 (Hans Selye)

Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua.. Salam lima jari! Heuheu..

Apa topik yang sedang menjadi tren di Indonesia? Ya, sembilan puluh sembilan dari seratus orang akan menjawab : Pemilu Presiden-Wakil Presiden. Saya pribadi sudah punya pilihan, tapi tetap tidak mau terpancing untuk masuk dalam kisruh fanatisme yang berlebihan.

Sebenarnya tulisan ini tidak memfokuskan pada kegiatan pemilu, namun lebih umum lagi terkait dampak dari sebuah kritikan terhadap kejiwaan seseorang. Tema menarik ini terilhami dari buku How to Win friends and Influence People, karangan Dale Carnegie, yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia judulnya jadi : bagaimana mencari kawan dan mempengaruhi orang lain. Apa pesan inti dari buku itu? Baru membaca bab pertama saya sudah tercerahkan dibuatnya. Jadi yang saya tulis ini hanya kandungan ilmu di bab pertama! Bagi yang sudah pernah membaca dan memahami isi bukunya, silahkan di skip saja tulisan ini. Heuheu..

Ada 3 prinsip yang harus diperhatikan dalam teknik mendasar untuk menangani manusia. Ketiganya bisa jadi sangat efektif sebagai cermin untuk kita berkaca kembali dan menata ulang sikap yang terlanjur membuat hubungan kita dengan keluarga, teman, sahabat, kerabat, pacar, atau selingkuhan (#upss) hancur berantakan.


Prinsip I : jangan mengkritik, mencerca, dan mengeluh


Percaya atau tidak, seorang penjahat pun tidak akan suka kalau dikritik. Mau bukti? Tiga orang pembunuh paling kejam yang pernah ada di Amerika (Crowley, Al Capone, dan Dutch Schultz), ketika mereka berhasil ditangkap oleh polisi, sama sekali tidak pernah menyalahkan diri sendiri atas kejahatan keji yang pernah mereka perbuat. Crowley sesaat sebelum dihukum mati mengatakan bahwa di balik bajunya yang gelap ada hati yang tidak tega menyakiti orang lain. Al Capone mengatakan dia berbuat jahat untuk membantu masyarakat miskin mendapat keadilan. Sedangkan Schultz memberikan julukan untuk dirinya sendiri sebagai dermawan publik.

Kamis, 08 Mei 2014

Sang Zombigaret Pengkhianat Kepercayaan Istri

Sore ini langit berhiaskan awan kelabu, mendung merajai suasana duka. Wajah-wajah suram sedang berdiri menatap sepasang nisan dan tanah gembur yang baru saja ditimbun di pemakaman umum kampung kami. Aku mengenali dua wanita yang masih tetap bergeming, tidak beranjak dari sini, sementara orang-orang sudah pulang satu persatu dengan teratur. Mereka berdua istri dan ibuku, dua wanita yang paling kusayang di dunia. Siapa yang mereka tangisi? Aku coba memanggil mereka, kusentuh pundak istriku, namun tidak ada respon sama sekali. Aku ganti meraih tangan ibuku, beliau juga tidak menoleh sedikit pun. Aku ingin mengajak mereka pulang. Melihat mereka seperti itu, aku pun ikut memperhatikan kuburan itu. Aku terkejut bukan kepalang, namaku tertulis jelas di permukaan batu nisan, tanggalnya pun menunjukkan waktu hari ini! Ternyata aku telah meninggal. Kuburanku yang kini mereka tangisi. Gerimis mulai menitik menghajar debu-debu tanah pemakaman. Aku tidak merasakan dinginnya air hujan. Jadi benarlah bahwa aku sudah tidak di dunia lagi. Aku mulai merasakan takut yang luar biasa. Satu sisi aku mulai meraba apa gerangan yang telah terjadi sebelumnya.

*****

Nisrina Ayu Dewi, wanita anggun yang kunikahi tiga tahun yang lalu. Dia seorang perawat di sebuah rumah sakit swasta di kota kami. Perkenalanku dengannya berawal sejak aku memeriksakan diri ke rumah sakit. Saat itu aku mengeluh sering sesak napas. Nisrina-lah yang dengan sabar merawatku, sangat tenang menasehati agar aku mengurangi kebiasaan merokok. Aku sangat nyaman berada dekatnya, membagi cerita tentang kebiasaan merokok-ku. Aku merokok sejak SMA hingga kini usiaku beranjak kepala tiga. Nisrina pun setuju kunikahi dengan syarat aku harus berhenti merokok. Sebagai orang kesehatan, dia paham betul ancaman dari benda yang bernama rokok. Dia tidak ingin rumah tangga kami nanti harus

Minggu, 20 April 2014

Kebijakan Strategis Hutan, Akankah Berbuah Manis Kesejahteraan?


Pendahuluan

Kehidupan manusia telah diciptakan secara seimbang dalam tatanan ekosistem alam yang indah. Alam menyajikan perputaran siang dan malam, meregenerasi air dan panas bumi, membedakan lahan potensial dengan yang berbahaya untuk dikelola, bahkan menyeleksi perilaku baik dan buruk dari manusia. Keseimbangan itu akan tetap terjaga hingga manusia sendiri sebagai ‘makhluk utama’ di muka bumi ini merusaknya. Salah satu pondasi kelestarian alam hayati adalah tersedianya tumbuhan hijau secara memadai. Hal ini kemudian sangat erat kaitannya dengan eksistensi ekosistem hutan di ranah negeri kita tercinta. Hutan menjadi sebuah entitas penting dalam mendukung peri-kehidupan manusia berperadaban. Perlu terlebih dahulu kita sepakati bersama, bahwa pengertian hutan menurut konstitusi negara adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan (pengertian menurut Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan, kemudian digantikan dengan UU Nomor 19 tahun 2004). Lantas apa sebenarnya fungsi penting dari sebuah ekosistem hutan? Kumpulan pepohonan hijau dianugerahi fungsi untuk menjadi paru-paru bagi dunia, sumber penghasil oksigen yang melimpah. Hutan juga mampu menetralkan kondisi habitat hidup kita para manusia yang semakin tidak ramah lingkungan. Hutan mengurangi dampak asap kendaraan bermotor, pabrik, rokok, dan masih banyak lagi. Ketakutan manusia makin menjadi saat para pakar ilmu alam mengkampanyekan peningkatan Efek Rumah Kaca. Permasalahan berangsur mulai meluas, hingga membentuk sebuah kesadaran umum bahwa dampak dari keterlantaran hutan akan membawa ancaman serius bagi umat manusia.

Permasalahan yang terjadi tidak hanya sebatas pada bidang sains dan teknologi, namun secara simultan telah menyentuh ranah yang multi-bidang; ekonomi, sosial, budaya, hankam, hingga sisi geopolitis. Hutan Indonesia, dalam data yang dipaparkan oleh FWI (Forest Watch Indonesia), merupakan pemegang peringkat ketiga dunia sebagai wilayah yang terluas. Kekayaan alam yang bersumber dari hutan alam negeri ini sungguh sangat melimpah. Tidak mengherankan jika kemudian banyak pihak yang merasa berkepentingan terhadap wilayah hutan Indonesia. Sisi ekonomi menyangkut transaksi ekspor-impor maupun izin pengelolaan perusahaan domestik. Sisi sosial selalu terkait dengan tantangan mewujudkan hutan yang pengelolaannya berbasis masyarakat. Sisi budaya berkaitan dengan kehidupan dan bargaining position para etnis adat yang beragam dalam wilayah hutan. Sisi hankam (Ketahanan dan Keamanan) berbicara masalah resistensi negara dalam hal mencegah dan menanggulangi kejahatan oleh oknum dalam negeri maupun asing yang siap menggerogoti negara melalui eksploitasi hutan secara ilegal. Sedangkan sisi geopolitis menyangkut sebaran hutan di seluruh wilayah kita yang belum dimaksimalkan karena berbagai kepentingan dalam internal pemerintah yang belum saling mendukung.

Mengidentifikasi potensi serta permasalahan hutan sangat besar manfaatnya demi merumuskan langkah selanjutnya. Potensi membuat kita bisa mengagumi, sedangkan masalah dapat membuat kita waspada agar tidak berdampak buruk pada apa yang telah dikagumi. Berdasarkan paparan Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam Depatemen Kehutanan, beberapa potensi keanekaragaman hayati yang terkandung dalam tanah ibu pertiwi sangat membanggakan, seakan melengkapi kekayaan dari bidang-bidang yang lain; biodiversitas alam kita terdiri dari 515 spesies mamalia (urutan pertama dunia, 36% diantaranya bersifat endemik), 122 spesies kupu-kupu sayap burung (urutan pertama dunia, 44% diantaranya bersifat endemik), lebih dari 600 spesies reptil (urutan ketiga dunia), 1531 spesies burung (urutan keempat dunia, 28% diantaranya endemik), 270 spesies amfibi (urutan kelima dunia), 28000 tumbuhan berbunga (urutan ketujuh dunia). Betapa luar biasanya potensi-potensi itu jika kita ingin membayangkannya. Sebagian dari potensi itu terkandung di dalam setiap rimbunnya hutan kita. Ketika ekosistem hutan di negeri ini mengalami kerusakan, maka komponen yang ada di dalamnya pun akan bermasalah. Permasalahan yang sudah semakin biasa terjadi serta mengancam ekosistem hutan antara lain, penebangan liar, pembakaran, pembangunan kavling, hingga pencurian kayu dan spesies langka. Oleh karena itu, perlu kiranya dirumuskan berbagai kebijakan pro-lingkungan, pendukung kelestarian, serta tidak mengabaikan peningkatan kesejahteraan.

Ekonomi Versus Ekologi

Tantangan terberat dalam penyelenggaraan kebijakan terkait hutan di era modern saat ini adalah perbenturan kepentingan antara pelestarian lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan di bidang ekonomi. Kenyataan itu kemudian mengerucutkan sebuah pertanyaan tentang mampukah pemerintah menyelaraskan kedua sisi mata uang tersebut dalam pengelolaan hutan? Para pemegang aliran konservatoris selalu mendengungkan langkah konservasi alam sebagai upaya utama yang harus dilakukan dalam menjaga keseimbangan alam, sedangkan para ekonom dan berbagai kalangan dunia usaha mengutamakan ukuran kuantitas hasil sebagai patokan keberhasilan pengelolaan. Padahal jika menilik paradigma baru yang semakin gencar disuarakan bahwa kedua lini tersebut bisa saja dilakukan seiring dan sejalan tanpa mengorbankan salah satunya. Menurut World Resource Institute, bahwa konservasi mengandung tiga unsur pokok; menyelamatkan keanekaragaman hayati, mempelajari keanekaragaman hayati, dan menggunakan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan dan seimbang. Jelas dari uraian tersebut dapat disepakati tentang penyatuan tiga kegiatan yang saling mendukung tercapainya hutan yang lestari sekaligus ekonomi yang mandiri.

Sudut Pandang Seorang Presiden

Memang tidak selamanya kita harus duduk di kursi jabatan tertinggi negeri ini untuk bisa membawa perubahan bagi hutan. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa kita hidup di bawah sebuah sistem yang mulai nampak keburukan-keburukannya, baik itu tentang sistem birokrasinya yang berbelit-belit, sumber daya manusia yang kurang mumpuni, hingga pada fenomena KKN yang seakan telah mendarah daging. Oleh karena itu, tentu akan lebih mudah jika saya mengandaikan diri sedang duduk dalam kursi kepemimpinan seorang presiden, dimana pucuk tertinggi kekuasaan pengelolaan sumber daya alam, termasuk hutan, ada di tangan saya. Saya membawahi menteri-menteri di kabinet, saya sejajar dengan dewan legislatif dalam hal bargaining power di ranah pembuatan peraturan, saya juga punya hak prerogatif dalam mendukung kebijakan yang saya cetuskan sendiri. Betapa menyenangkan jika kesempatan sebagai presiden itu saya gunakan untuk menelurkan ide pengembangan hutan.

Frame awal yang harus disatukan terlebih dahulu sebelum bersama-sama mengelola hutan adalah penyetaraan paradigma tadi. Pertama, kita harus menganggap (menganalogikan) hutan sebagai seorang kekasih. Ketika kita jatuh cinta pada seseorang, tentu kita akan sangat menyayanginya. Kita tidak ingin terjadi sesuatu padanya, baik itu lecet, luka bakar, tertusuk, atau mungkin dinodai kehormatannya oleh orang lain. Kedua, kesamaan tentang keselarasan pembangunan hutan demi ekologi dan ekonomi, sehingga tidak ada saling sikut dalam pergolakan kepentingan. Ketiga, pergantian presiden dan kabinet tidak harus mengganti pula segala peraturan dan strategi yang telah dijalankan oleh pemerintahan sebelumnya. Ada baiknya untuk terus beregenerasi tanpa harus bersegmentasi, melepas semua egosentrisme dan stigma negatif yang sering memandang rendah orang lain. Setelah ketiga hal itu terpenuhi, kita tinggal memperkuat aspek supremasi hukum dan penambahan beberapa gebrakan di ranah aplikasi nyata.

Kenapa saya mengatakan bahwa kita hanya tinggal memperkuat hukum dan juga langkah kongkrit? Bagaimana tidak, konstitusi negara ini sudah sangat banyak, sudah mengakomodasi semua lini pengelolaan kehutanan. Negara ini dapat dikatakan sudah terlalu banyak memendam peraturan, tanpa penerapan yang tepat di lapangan. Payung tertinggi konstitusi tentang sumber daya alam sudah jelas berasal dari pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi : “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat”. Konstitusi induk tersebut kemudian diturunkan pada Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan, yang kemudian diperbarui beberapa poin hingga disahkan kembali melalui Undang-Undang Nomor 19 tahun 2004. Peraturan tersebut telah mengakomodasi segala aspek kehutanan, seperti perencanaan, pengelolaan, penelitian, pengembangan, pendidikan, penyuluhan, serta pengawasan. Ketika saatnya menjadi presiden, maka saya tinggal merumuskan langkah aplikatif turunan dari beberapa aspek tersebut.
  1. Kegiatan perencanaan bisa dilakukan dengan basis payung yang kuat. Disinilah fungsi RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) berperan besar. Jika RTRW telah diramu dalam sebuah dokumen inti yang baik, maka pedoman perencanaan wilayah, termasuk di dalamnya tercakup hutan sebagai zona kawasan lindung dan budidaya, akan berfungsi maksimal. Selama ini pembuatan RTRW masih jauh dari kesan ilmiah, masih banyak plagiatisme dengan menjiplak peraturan yang telah berlalu (RTRW ditinjau kembali setiap 5 tahun sekali). Pada RTRW itulah dasar penetapan luas ruang terbuka hijau (RTH) harus tidak kurang dari 30 persen dari luas satu satuan wilayah. Luas wilayah hutan tidak boleh kurang 30 persen dari luas daerah aliran sungai atau pulau dengan sebaran yang proporsional.
  2. Kegiatan pengelolaan bisa dilakukan dengan pemberian izin bagi setiap perseorangan atau pun lembaga swadaya masyarakat, lembaga milik pemerintah maupun swasta. Setiap para pengelola itu diberikan rambu-rambu yang ketat terkait insentif dan disinsentif dalam mengekplorasi hasil hutan. Ambang batas pengerukan hasil hutan harus jelas dan tegas. Selain itu perseorangan atau badan usaha tersebut wajib memberikan dana pengganti kerusakan alam atau pun dalam bentuk Coorporate Social Resposibility (CSR). Pengelolaan bisa dilakukan hanya pada hutan yang bukan cagar alam atau zona inti, itu pun dengan prosedur yang jelas.
  3. Kegiatan penelitian dan pengembangan bisa dilakukan dengan mengirimkan setiap ilmuwan yang konsen di bidang keanekaragaman hayati untuk lebih banyak hidup di hutan. Para ilmuwan tersebut disediakan laboratorium sekaligus rumah di dalam hutan, biaya hidup mereka ditanggung oleh pemerintah dan donasi dari swasta. Selama ini para pihak akademisi seakan hanya meneliti hutan dari jauh, hanya sesekali meninjau lokasi, sehingga chemistry serta kecintaan terhadap hutan sangat minim. Jika dalam kawasan sebuah hutan terdapat masyarakat adat yang menetap, maka para ilmuwan bisa bekerja sama dengan mereka. 
  4. Kegiatan pendidikan dan penyuluhan bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari pemberian beasiswa bagi peminat studi di bidang kehutanan, pemberian penyuluhan kepada seluruh stakeholders tentang pentingnya sinergi pengelolaan bersama hutan, pemberian reward yang tinggi kepada para peneliti yang berdedikasi dalam memberikan pencerahan untuk kebaikan hutan Indonesia. Jadi, pemerintah tidak hanya beretorika semata, tapi memberikan bantuan nyata, agar setiap insan akademisi merasa dihargai adanya.
  5. Kegiatan pengawasan dapat diterapkan lebih intensif dari sebelumnya. Pengawasan ini menyangkut keselamatan segala biodiversitas dari ‘pencuri dan perampas harga diri hutan’ yang makin membabi buta. Pemantauan lewat satelit terhadap hutan harus lebih dilakukan secara terpadu dengan bekerjasama dengan Badan Inteligen Negara (BIN). Selain itu, pemerintah dapat menyebar CCTV di beberapa penjuru hutan, pemantauannya disinergikan dengan ilmuwan yang menginap di laboratorium hutan tadi. Jadi, selain para ilmuwan, di laboratorium hutan juga sudah siap siaga para tim Rescue Khusus Hutan (RKH) yang menangani langsung masalah keamanan, satu jenjang diatas polisi hutan.
 Demikian uraian saya tentang kebijakan strategis terkait hutan, yang akan dijalankan jika saya diangkat menjadi presiden. Kebijakan tidak harus muluk-muluk dan utopianis, karena sesuatu yang kecil namun berguna itu jauh lebih bermakna. Pelaksanaannya pun bisa terealisasi secara sustainable. Pemerintah yang baik harus menjalankan konsep ekonomi dan ekologi agar berjalan seimbang dalam rel yang sejajar, agar kereta api pembangunan Indonesia bisa melaju dengan potensi keuntungan hakiki; melestarikan alam sekaligus mensejahterakan rakyat. Semoga walaupun belum menjadi presiden, saya bisa menelurkan semangat keseimbangan ini kepada generasi-generasi saya. Presiden Indonesia berikutnya jangan dipercaya sebagai tokoh yang berjiwa nasionalis, sebelum dia mencintai hutan dan melindungi segala yang ada di dalamnya.

Semakin Indonesia Baru, Semakin Rindu Masa Lalu




Sepak terjang subjek politik di tahun yang penuh dengan atmosfer politik ini memang sangat menarik diamati. Tidak usah jauh-jauh, kanal politik dalam media kompasiana ini saja telah menjadi ‘gudang gula bagi semut-semut’ yang secara langsung merasakan tingginya euforia dari publik dalam menyongsong pesta demokrasi yang berlangsung dalam periode lima tahunan itu. Kita merayakan itu dengan tulisan-tulisan kita disni. Pada awal bulan April mendatang, pesta itu akan disuguhkan terlebih dahulu dengan ‘makanan pembuka’ untuk menyiapkan diri menyongsong ‘makanan utama’ lepas tengah tahun nanti. Walaupun masih terbilang memiliki waktu jeda cukup lama, tapi para calon maupun bakal calon yang mengincar kursi RI-1 telah melakukan ancang-ancang, baik dengan tindakan nyata maupun yang bersifat siluman. Pergerakan yang tak kasat mata (underground) memang harus diakui lebih favorit untuk diterapkan, mengingat saat ini belum waktunya pelaksanaan kampanye untuk para calon. Selain itu, kampanye terselubung memungkinkan salah satu pihak untuk melakukan penetrasi strategi tanpa bisa dibaca oleh pihak yang dianggap saingan.

Jual-beli politik seakan berlangsung dengan jumlah yang tak terhitung dalam medan frekuensi transaksi yang tidak nampak nyata. Lobi-lobi politik pun semakin gencar dilakukan antar komponen yang memang mengincar kedudukan setelah pesta demokrasi nanti berakhir. Para calon yang dipublikasikan oleh media sebagai orang yang baik, belum tentu dia memang baik. Sebaliknya calon yang selalu dicitrakan negatif oleh awak media, belum

Makna ‘Specta’ Sebuah Tatap Muka

Manusia memang secara kodrati diciptakan sebagai makhluk sosial, Zoon Politicon (meminjam istilah filusuf Yunani, Aristoteles), mahluk mandiri (Muhammad Zuhri), makhluk berkelompok (Dr. Johannes G), makhluk yang saling berhubungan (Liturgis). Berdasarkan kenyataan tersebut, maka manusia selalu membutuhkan sebuah bantuan dari sesamanya untuk tetap bertahan hidup. Manusia boleh saja memiliki sifat egosentris yang tinggi, tapi tetap saja tidak bisa menepis fakta bahwa dia tetap bukan siapa-siapa tanpa manusia lain. Contoh kecilnya, seorang anak yang selalu membanggakan kekayaannya sebagai buah usahanya sendiri, padahal dia tidak bisa sesukses sekarang tanpa orang tua dan sanak famili. Manusia boleh saja merasa memliki derajat paling tinggi karena jabatannya, namun tetap tidak bisa menepis fakta bahwa dia dipilih dan makan dari hasil pajak rakyatnya. Masih banyak lagi fakta-fakta lain yang menguatkan kedudukan manusia sebagai makhuk sosial.
 
Pada ranah aplikasinya sehari-hari, akibat dari kebutuhan akan bantuan dari sesamanya, maka dari itu mereka perlu untuk bertemu dan bertatap muka. Banyak faktor yang mendukung terjadinya pertemuan sebagai awal dari proses tatap muka, antara lain kesamaan tujuan (rekreasi, relaksasi, edukasi, dll), kesamaan kondisi (stress, penat, marah, kecewa, sedih, dll), kesamaan waktu (luang, jeda, libur, hari raya, cuti, dll). Pada era yang saat ini telah berubah, teknologi komunikasi dan informasi yang berkembang pesat, lebih cepat dari laju panah yang ditembakkan dari busurnya, lebih lincah dari cheetah (hewan tercepat di dunia) yang mengejar mangsanya, maka interaksi manusia berupa tatap muka akhirnya tergantikan dengan hadirnya teknologi handphone, internet, televisi digital, dan lain sebagainya. Padahal dalam sebuah tatap muka mengandung makna spektakuler yang tidak

Sabtu, 22 Maret 2014

[PUISI] Setangkai Rindu untuk Ibu di Alam Baru


Kasih sayangmu ibu..
Tercurah penuh waktu..
Padaku sang anakmu..
Menguntai syahdu..
Semerdu lagu..

Ribuan laku sia-sia..
Bermodal nafsu dunia..
Mengiris hatimu terluka..
Meluka jiwamu durja..
Hilangkan senyum tawa..

Sakitmu meluruh ketegaran..
Jeritmu meruntuh keceriaan..
Terkulai lemas kau kesakitan..
Ruang medis tak meringankan..
‘Enyahlah kau sakit, sialan!’

Hancur lebur..
Ombak berdebur..
Mengalur..
Mengubur..
Harap tlah menjamur..

Maaf untuk ibu tercinta..
Kau tinggalkan aku putus asa..
Anakmu tak tahu balas jasa..
Kini, meronta pun ku tak bisa..
Hanya doa di atas nisanmu saja..

Terima kasih ibu terkasih..
Tiada aku ingin berdalih..
Hidup ini telah menyerpih..
Ku berusaha ntuk tidak tertatih..
Jalani nuansa kehidupan hitam dan putih..

[Syair dedikasi untuk sahabat yang ditinggal pergi sang ibu, semoga tetap tegar, yakin saja bahwa musibah itu sumber penghapusan dosa]

Ayah, Menyulap Benci Menjadi Cinta


Saya sudah melihat wajah ayah di dunia sejak saya dilahirkan seperempat abad yang lalu. Ayah saya orang yang tinggi, gempal, berkumis-jambang tebal, berambut ikal, tatapan matanya tajam. Beliau punya 3 orang anak, saya anak sulung. Pada awal kelahiran saya hingga berusia 3 tahun, saya beserta ayah dan ibu masih tinggal di rumah kakek. Saya saat itu belum berpikir bahwa tengah hidup menumpang di rumah bukan milik kami sendiri. Setelah usia masuk sekolah taman kanak-kanak, kami pindah ke rumah baru, rumah kami sendiri. Namun apa yang disebut rumah sendiri ini sangat memilukan, lahannya begitu luas mencapai 4 acre, tetapi rumahnya hanya terdiri dari bangunan 2 kamar berjajar seperti sebuah kost-kostan. Satu kamar dipakai untuk tidur, satu kamar lagi dibagi dua; setengahnya kamar mandi, setengahnya adalah dapur. Sebagai gambaran saja, bahwa perbandingan luas tanah dengan luas rumah kami waktu itu adalah 65% : 35%.

Ayah awalnya bekerja sebagai guru di Mandratsah Aliyah (setingkat SMA), mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris, Arab, serta Al-Qur’an Hadits. Setelah lama menjadi guru, kemudian beliau diangkat menjadi kepala sekolah. Dianggap berhasil menjadi kepala sekolah, beliau kemudian dipromosikan lagi sebagai Kepala Departemen Agama di kota kami! Ketika itu saya sedang mengenyam pendidikan di bangku kelas XI. Saya sudah bisa memikirkan kembali apa yang telah terjadi dalam hidup kami, namun pikiran-pikiran itu semua berbau negatif.

Saya begitu jengah dengan hidup ini setelah saya mengerti bahwa kami bukan keluarga kaya dan berada seperti teman-teman lain. Rumah kami amat sederhana, tidak mencerminkan

Fotografer Asing Mual Lihat Pasar Tradisional Tomohon

Tidak mengherankan jika Indonesia digandrungi oleh para wisatawan dunia sebagai destinasi wisata. Kekayaan alam yang tiada tara, potensi keanekaragaman budaya yang luar biasa, serta peninggalan sejarah yang menyimpan sejuta romantisme masa lalu, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong. Wisatawan yang berkunjung ke Indonesia memiliki beragam tujuan, ada yang ingin menikmati pantai beserta terik mataharinya, ada yang datang untuk menikmati alam bawah laut, ada yang memiliki preferensi menguak misteri di balik situs-situs sejarah, ada pula yang gemar mengabadikan semua potensi dalam bentuk foto. Berbicara tentang foto, stok pemandangan yang ada di negara kita tidak akan pernah ada habisnya untuk diabadikan. Selalu ada tempat baru, objek baru, dan kondisi baru yang selalu menarik untuk diabadikan.

Salah seorang wisatawan asing asal Oman yang konsen di dunia fotografi, Raymond Walsh, secara langsung datang mengunjungi Pasar Tradisional Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Dia awalnya datang ke Indonesia untuk menikmati seluruh keunikan yang ada di berbagai daerah dari balik lensa kualitas tinggi miliknya. Ketika dia mengunjugi pasar tersebut, betapa kagetnya dia terhadap pemandangan yang pertama kali dia saksikan seumur hidup. Wajah Walsh berada di antara takjub, bingung, dan ngeri. Betapa tidak, pasar itu mengahadirkan konsep dan konten berjualan yang amat berbeda dengan apa yang sering terbayang di pikirannya. Meja-meja besar di pasar tidak hanya diletakkan untuk sayur dan ikan saja, tetapi juga hewan-hewan yang tergolong hewan buas dan hewan peliharaan pun berjajar rapi diatas meja (monyet, tikus, kungkang, ular ukuran besar, hingga kucing). Walsh sesaat bergidik dan merasa mual serta pusing memandang setiap pemandangan dalam pasar. Dia begitu iba dengan beberapa hewan yang di negaranya merupakan hewan peliharaan kesayangan, seperti kucing dan anjing, namun justru disini kedua hewan tersebut malah diburu, dibunuh,

101 Romantic Idea, Belajar dari Michael Webb



Berbicara tentang hubungan percintaan maka tidak akan lepas dari kata-kata romantis. Namun romantis tidak selalu dengan kata-kata. Tindakan dan penerimaan, yang notabene bersifat lebih nyata, juga menjadi salah satu kriteria keromantisan. Ukuran romantisnya kata-kata dan tindakan dari seseorang pun sungguh amat relatif, tergantung dari pribadi yang menerimanya. Ada seorang wanita yang merasa pasangannya romantis karena setiap tiga hari sekali diberikan bunga dan cokelat. Ada yang merasa pasangannya romantis hanya karena selalu dilibatkan dalam aktivitas sehari-harinya di lapangan walau hanya melalui telepon. Ada pula yang merasa romantis hanya ketika sudah bertemu dan bercumbu. Saking berbeda-bedanya cara seseorang menerapkan dan merasakan keromantisan, sampai-sampai perilaku romantis hampir kehabisan stok. Maka muncullah apa yang disebut dengan perilaku gombal. Wabah ‘gombal warming’ ini terjadi karena sudah semakin banyak sikap dan kata-kata romantis yang diulang-ulang, sehingga sudah sering didengar dan basi. Penting kiranya untuk para pasangan agar mencari referensi dan wawasan yang luas agar kata-kata dan tindakan yang dilakukan terhadap pujaan hati tidak dianggap sebagai gombalan belaka. Salah satu referensi yang bisa dijadikan rujukan untuk para pemburu keromantisan adalah 101 Romantic Ideas by Michael Webb (Founder of TheRomantic[dot]com). Berikut ini saya terjemahkan sendiri jurus-per-jurus dari ide romatis tersebut. Siapkan kopi hitam dan rokok anda untuk tetap berada di depan layar, membaca dengan seksama. Bagi yang sudah pernah

Peneliti Kita & Ahli Luar Negeri Keluhkan Demokrasi di Indonesia



Sistem demokrasi di Indonesia yang masih seumur jagung, tentu masih sangat rentan terhadap berbagai perubahan. Demokrasi di satu sisi menjadi sistem yang sangat mahal dan menguras keuangan negara jauh berlipat ganda, namun di sisi lain sudah banyak perkembangan negara akibat realisasi demokrasi. Tren yang terbentuk dalam sistem demokrasi kita membentuk sebuah mekanisme politik yang lebih liberal. Setiap jiwa yang ada selalu memimpikan adanya kesejahteraan lahir dan batin sesuai amanat konstitusi tertinggi negara ini. Namun, harapan rakyat itu nampak semakin jauh panggang dari api, sebab pemerintah selalu menyerahkan berbagai pemenuhan kebutuhan mereka pada mekanisme pasar. Jadi, semakin bebas dan liberalnya siklus pasar kita, maka semakin jauh pula harapan akan kesejahteraan bagi rakyat kita yang memang masih kesulitan untuk hidup. Kemudian apa yang salah dengan demokrasi kita? Demokrasinya atau kitanya?

Menurut rektor UGM sekaligus peneliti demokrasi, Pratikno, rakyat Indonesia saat ini berada dalam suatu kondisi yang sudah tidak percaya lagi terhadap kelembagaan politik. Hal ini

[PUISI] Remaja di Ujung Zaman



Hikayat cinta, bicara remaja..
Ceritera insan manusia bernada manja..
Pagi bahagia, siang terlena, malam terluka..
Nodai tawa bertukar galau menyiksa..
Tak pernah berbeda memahami warna dunia..

Cinta berbagi memberi setulus hati..
Bukan rupawi, janji, pun materi..
Bukan ajang perburuan nafsu syahwati..
Bukan takaran nilai harga diri..
Iblis hanya membual tentang cinta sejati..

Terang saja, remaja hilang harapan..
Linglung lihat jalan, semua inginkan instan..
Gengsi dibesarkan, walau hanya orang pinggiran..
Ilmu sejengkal kuku tak pernah diberdayakan..
Kini asmara datang, pikiran makin tak karuan..

Bicara remaja, jaminan bangsa..
Ini gambaran negara penuh nelangsa..
Ayah serasa asing menatap anaknya..
Ibu sudah tidak peka dalam merasa..
Anak merdeka menggores dosa..

Remaja, bunga yang merekah..
Bertahta kelopak dan daun indah..
Tiada pernah berubah merah..
Ketika musim belum siap merubah..
Kini, kuselip doa demi menghapus gundah..

Rabu, 26 Februari 2014

Wilayah Perbatasan, (Harusnya) Pintu Gerbang Negara


Pengantar

Data yang dipaparkan oleh Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal Bappenas menyatakan bahwa luas total garis pantai di Indonesia berjumlah 81.900 kilometer. Dominasi wilayah laut dari salah satu negara kepulauan dan maritim terbesar di dunia ini menyebabkan adanya batas perairan dengan wilayah negara lain. Wilayah laut Indonesia berbatasan dengan 10 negara, yaitu India, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Kepulauan Palau, Australia, Timur Leste, dan Papua Nugini. Perbatasan langsung dengan perairan negara lain tersebut sehingga ada istilah pulau-pulau terluar, jumlahnya mencapai 92 pulau. Selain batas laut, ada pula batas darat yang memisahkan daratan Indonesia dengan beberapa negara tetangga. Negara yang berbatasan darat langsung dengan negara kita adalah Malaysia, Timur Leste, dan Papua Nugini. Jika dirinci, batas-batas itu tersebar di 3 pulau, 4 provinsi, dan 15 kabupaten/kota. Masalah krusial yang masih menjadi pekerjaan rumah rumit bagi pemerintah adalah terkait paradigma berpikir. Bahkan kita semua, tidak hanya pemerintah, masih memandang wilayah perbatasan sebagai suatu entitas kumuh, jauh dari peradaban, kurang menarik bagi investor, sehingga jarang dilakukan pembangunan infrastruktur. Kita masih melihat dengan sudut pandang inward looking, belum serta merta menggunakan outward looking. Jadilah kemuadian wilayah perbatasan seakan menjadi ‘pelengkap’ eksistensi sebuah negara kepulauan terbesar di dunia.

Konstitusi Wilayah Pesisir & Pulau Kecil

Potensi kekayaan bahari yang terkandung di perairan Indonesia sungguh sangat istimewa. Seluruh dunia tidak ada yang pernah mengingkarinya, Indonesia kini adalah negara kaya yang (hanya) belum mampu memaksimalkan potensi alamnya. Rencana pengelolaan wilayah laut di Indonesia bisa dikatakan cukup lamban. Peraturan tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil secara masif baru saja disusun pada tahun 2007, itu pun hanya dalam bentuk Rancangan Undang-Undang. Pada akhir tahun 2013 yang lalu, Kementerian Kelautan

[Siaga] Tahun 2017, Daerah Otonom Bisa Dihapus


Pengantar

Pembahasan mengenai otonomi daerah selalu menjadi ‘nyawa’ bagi perjalanan hidup birokrasi di Indonesia. Betapa tidak, otonomi daerah telah jauh-jauh hari diamanatkan dalam konstitusi tertinggi negara kita (UUD 1945), terutama lebih lengkap setelah amandemen kedua tahun 2000. Materi khusus yang menyebut tentang amanat itu diletakkan pada Pasal 18, 18A, dan 18B. Materi dalam konstitusi tertinggi itulah yang kemudian diturunkan dalam bentuk UU, Perpu, Perpres, Perda, dan peraturan yang ada di bawahnya. Usaha untuk menerapkan otonomi daerah sudah coba diinisiasi sejak pemerintahan Orde Baru berkuasa, yaitu melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. Namun alih-alih menyalurkan amanat UUD 1945, pemerintah yang saat itu berkuasa masih tetap menonjolkan sistem sentralisasi, segala sesuatu terpusat ke ibukota negara. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 kemudian dianggap sebagai konstitusi yang gagal diterapkan oleh sebab sistem terpusat yang masih kuat mencengkeram. Pergantian era kepemimpinan dari pemerintah otokrasi ke sistem yang lebih demokrasi di tahun 1998 menjadi tonggak sejarah lahirnya peraturan baru terkait otonomi daerah. Tepat di saat Presiden Habibie memegang estafet kepemimpinan dari Pak Harto, dibentuk Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah. Peraturan ini yang kemudian dinilai berhasil untuk pertama kalinya meletakkan dasar bagi penyelenggaraan otonomi daerah yang lebih terarah. Salah satu bukti bahwa peraturan ini lebih terarah adalah karena pembentukannya diikuti pula dengan Undang-Undang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (UU No. 25 Tahun 1999).

Pada Undang-Undang Nomor 22 tersebut, terowongan otonomi daerah sudah bisa mengarahkan gerbong kereta pemerintahan untuk berjalan sesuai dengan rel-nya. Otonomi daerah kemudian lebih dilihat sebagai hak setiap daerah otonom, bukan lagi sebuah kewajiban yang memberatkan. Daerah otonom dilimpahkan hak yang lebih nyata dan bertanggung jawab secara moral dan konstitusional di bawah payung negara kesatuan. Semua kebijakan selain politik luar negeri, keagamaan, fiskal, peradilan, ketahanan & keamanan, diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah masing-masing. Peraturan itu kemudian lebih memberikan kesadaran akan pentingnya upaya pemberdayaan masyarakat dalam ranah potensi dan kearifan lokal daerah. Pada era kepemimpinan Ibu Megawati, peraturan mengenai otonomi daerah kemudian mengalami perubahan lagi dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 untuk menggantikan peraturan sebelumnya. Hal yang sama juga dilakukan terhadap Undang-Undang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (diganti dengan UU Nomor 33 Tahun 2004). Peraturan otonomi daerah menjadi (bisa jadi) makin sempurna ketika setelah itu berubah lagi dengan

Senin, 24 Februari 2014

Jangan Tumpahkan Mani Terlalu Dini (Hamil Di Luar Nikah)


Pagi ini aku sedang duduk santai menikmati teguk demi teguk kopi hitam pahit yang rasanya menjalar nikmat hingga ke ubun-ubun. Aku masih membayangkan cerita tanteku yang tinggal di desa. Kemarin aku baru saja mengunjungi mereka untuk sejenak melepas penat di rumah. Beliau awalnya hanya menanyakan padaku tentang rencana kerja dan menikah, namun setelah itu dia yang malah banyak bercerita. Beliau menasehatiku tentang pergaulan anak muda di era modern ini. Di desa tempat tinggal mereka saja, yang bisa dikatakan masih terbelakang dalam hal teknologi informasi serta pendidikan, pergaulan para pemuda sudah sangat liar. Apalagi jika membayangkan pergaulan pemuda yang berada di kota besar.

Tanteku bercerita tentang maraknya fenomena pemudi desa yang ketahuan hamil di luar nikah. Dua bulan terakhir saja, sudah ada 5 orang gadis yang harus dinikahi secara ‘tidak hormat’ dengan pasangan mesumnya. Usia rata-rata mereka adalah usia sekolah dan kuliah,

Politik yang Ramah


Politik saat ini bisa jadi telah menjelma menjadi salah satu kata yang paling populer di samping cinta dan budaya. Politik sering dipikirkan, sering dilakukan, namun sangat jarang dirasakan. Hal ini sangat berbeda jauh dengan cinta dan budaya; dua hal ini terlebih dahulu perlu dirasakan untuk kemudian dilaksanakan. Politik semakin jarang melihat estetika, politik bermain dengan logika. Ah, apa itu politik? Persetan dengan semua hal yang berbau politik, selama politik tetap sama seperti apa yang aku pikirkan saat ini. Politik oleh para ahli diartikan dengan menjiplak pemikiran-pemikiran Yunani, padahal ada India dan Persia (sekarang Iran) yang menjadi sumber sejarah. Istilah politik yang digembar-gemborkan selalu seputar istilah Yunani : polis, politeia, politika, politikos. Kenapa tidak dipopulerkan dengan bahasa Arab yang berasal dari kata siyasah, yang sekarang disarikan sebagai kata siasat? Pengertian-pengertian dari akar Yunani itu pun menjadi bahan (yang harus) dihafalkan secara tekstual di pelajaran sekolahan atau pun kampus. Biasanya dalam menghafal harus benar menyebutkan titik-koma sekali pun. Jadi tidak heran jika berbagai ahli politik selalu tergila-gila dengan pengertian yang teksbook, mendewakan buku-buku politik tulisan pakar barat, mendoktrin muridnya dengan segala tetek bengek pikiran para filusuf (ahli filsafat) yang notabene tidak pernah mereka lihat langsung. Murid dan mahasiswa pun ikut-ikutan ingin terlihat mentereng dengan menenteng buku-buku filsafat politik yang tebalnya melebihi ketebalan kitab suci agama. Jika diminta untuk berpendapat, maka mereka yang berasal dari latar belakang politik biasanya memberikan jawaban yang berputar-putar, njelimet, panjang, tidak simpel, penuh dengan istilah yang sulit dimengerti orang awam. Mereka seakan bangga dengan itu, dan kadang merasa paling pintar jika berhasil membuat orang di depannya melongo (bukan karena kagum, tapi bingung). Biasanya yang menjelaskan tersenyum puas, yang mendengarkan tersenyum gemas.

Ini mungkin yang membuat makin banyak orang-orang yang anti jika berbicara masalah politik, setidaknya bagi mereka yang tidak mau mikir berat. Jika disuguhkan acara debat politik dan

Audi Shark, Mobil Anti-Macet


Perkembangan sarana transportasi dunia menjadi bahan pembelajaran menarik. Betapa kita sedang berada di dunia yang dinamis, terus berubah. Tidak ada yang tidak berubah, kecuali perubahan itu sendiri, begitu setidaknya para orang bijak pernah berkata. Bisa jadi revolusi industri di Inggris (1750-1850), yang merupakan tonggak sejarah terciptanya mesin uap, kemudian menjadi cikal bakal berbagai jenis transportasi modern yang ada hingga kini. Belajar dari perkembangannya sejak jaman batu, transportasi secara berturut-turut yang ditemukan dan ‘merakyat’ adalah transportasi darat, kemudian disusul oleh penemuan kendaraan laut dan udara. Perkembangan tersebut berawal dari kebutuhan manusia untuk berpindah tempat. Ketika berada pada jarak yang dekat, manusia menggunakan batang-batang kayu sebagai roda untuk memindahkan barang dari satu titik ke titik lain. Setelah manusia menyadari ada perairan dan banyak pulau yang berbeda, maka mereka mulai menaruh kayu-kayu di atas sungai untuk mengangkut mereka ke pulau seberang. Menyadari luasnya bumi dan jauhnya jarak yang masih ingin ditempuh, maka berkat jasa Wright bersaudara pada tahun 1903, model awal pesawat terbang ditemukan.

Perkembangan yang Terjadi

Perkembangan transportasi dunia di era modern saat ini, terutama transportasi darat, sudah memasuki kategori mengkhawatirkan. Setidaknya para pakar perencanaan kota, para pakar transportasi, para pakar perilaku sosial, makin sering menyorot permasalahan transportasi berupa kemacetan. Kritikan yang dilontarkan tidak pernah lepas dari lemahnya penerapan

Jumat, 21 Februari 2014

Kalian, Sejiwa yang Hilang

Ku berjalan dalam sebuah lingkaran..
Mengikat tangan untuk sebuah tujuan..
Menerobos malam dari ribuan jalan..
Begitu erat seakan tak tergoyahkan..
Langkah kaki kuayunkan hanya bersama kalian..

Piring lusuh sering menjadi alas makan bersama..
Tanah lapang kering menyisakan jejak sepatu kita..
Bibir lautan surut menunggu tawa ceria seperti biasa..
Pepadi pun layu mengantar hilangnya manusia sejiwa..
Banyak sudah yang tlah terjadi dari masa ke masa..

Kalian rela menjadi bara api, ketika aku kedinginan..
Kalian mampu menjadi lentera, saat aku di kegelapan..
Kalian sanggup menjadi angin, terbangkanku gapai angan..
Kalian bisa terus menjadi putih, hingga aku tau hitam kehidupan..
Kalian pahami aku, layaknya tanah yang menerima daun berguguran..

Mimpiku ternyata tak selamanya indah..
Angan tentang kalian perlahan musnah..
Ada cinta lain yang membuat berubah..
Menganga jurang dalam seakan harus berpisah..
Lepaskan genggaman ini, lalu bersama dia pergilah..

Ku paham atas segala perbedaan tak terhindari..
Pandangan berbeda membenamkan persamaan visi..
Biarlah lingkaran hidup kuarungi sendiri..
Bertahan dengan wadah cinta yang pernah kalian bagi..
Mungkin inilah hidup yang mesti dijalani, bukan disesali..

Mengkritisi Program KB-nya Pemerintah



Sejenak saya termenung membaca berita yang bertema kependudukan di Indonesia. Berita pagi ini menyorot kependudukan dalam hal kuantitas. Berita tersebut menggambarkan betapa hebohnya Menkokesra (Agung Laksono) dalam menyampaikan prediksi jumlah penduduk Indonesia yang akan mencapai angka 300 juta jiwa di tahun 2035 dalam Rakernas BKKBN di Jakarta. Seberapa daruratkah kondisi laju pertumbuhan penduduk kita, sehingga kemudian menjadi salah satu titik fokus bagi pemerintah? Sudah tepatkah langkah pemerintah sejak tahun 1970 menerapkan program KB sebagai kegiatan berskala nasional? Tunggu dulu, saya ingin sedikit mengupas dari sisi yang berbeda. Saya ingin melihat dari sudut pandang agama yang saya anut. Jangan sampai ada yang sentimen. Indonesia memang bukan negara agama, tapi juga tidak sekuler. Jadi bagi yang sentimen dengan sudut pandang saya, bisa jadi dia beraliran sekuler, yang mau memisahkan agama dari negara. Hehe..

KB dalam Sejarah

Sebelum kita melangkah pada pembahasan yang lebih jauh, ada baiknya saya sedikit mengupas sejarah berdirinya BKKBN di Indonesia. Lembaga ini yang pada akhirnya menjadi

Jumat, 14 Februari 2014

‘Perang’ Facebook SBY vs PM Singapura


Selayang Pandang

Sosial media Facebook tidak bisa dipungkiri sudah menjadi tren kehidupan masa kini. Pengguna aktif yang terdata pada hingga medio oktober 2013 telah menembus angka 1,19 miliar. Kalau dalam istilah dagang, itu baru berat bersihnya (Netto), belum lagi jika dihitung kotornya (Bruto) yang terkait dengan pengguna akun musiman, hacker, ataupun pengguna yang mendaftar untuk sekedar iseng saja. Facebook terkenal berkat fitur-fiturnya yang mudah diingat atau terkesan friendly, publikasinya pun gencar, sehingga memancing setiap pengguna untuk login, login, dan login lagi.

Pengguna Facebook datang dari berbagai kalangan, mulai dari anak remaja alay yang sedang sibuk dengan kisah cinta monyetnya, anak muda yang sedang sibuk dengan titel barunya sebagai pengangguran selepas kuliah, ibu-ibu rumah tangga yang sedang memasak di dapur sambil memegang gadget, para pria paruh baya yang sedang mencalonkan diri jadi pejabat dengan wadah partai, sampai tokoh politik yang sedang ingin melakukan pencitraan demi menggalang suara di pemilu. Sekarang, para pejabat pemerintahan tidak mau kalah narsis, tidak rela kalah eksis.

Terlalu Melankolis

Berita terhangat yang sedang dibahas di berbagai media saat ini adalah mengenai pro-kontra penamaan KRI (Kapal Republik Indonesia), yang umumnya digunakan sebagai armada

Menengok Potensi Pantai Kolo - Kota Bima


Objek wisata yang beragam di daerah Bima memendam sejuta potensi yang tidak terbayangkan, terutama wisata bahari. Bima termasuk dalam daerah yang seimbang, berdiri diantara pegunungan dan bukit, namun diselingi laut dan selat yang indah. Bima sudah memekarkan diri sekitar 12 tahun yang lalu, dimana wilayahnya terbagi menjadi kota dan kabupaten. Wilayah kota hanya memiliki luas 222,25 kilometer persegi, dengan jumlah penduduk 142.443 jiwa. Sedangkan luas wilayah kabupatennya dua puluh kali lebih besar! Betapa besarnya potensi lahan yang bisa dikembangkan ke depan di daerah ini.

Lokasi objek wisata memang lebih didominasi oleh wilayah kabupaten, namun kota pun tidak miskin dalam hal potensi wisata. Salah satu objek wisata dalam wilayah kota adalah Pantai Kolo. Kenapa dinamakan demikian? Karena memang letaknya berada di Kelurahan Kolo Kecamatan Asakota Kota Bima. Pantai ini dinilai memiliki nilai eksotisme yang tinggi, dan masih dalam kategori ‘baru ditemukan’. Hal ini memancing warga Bima Raya, baik yang ketagihan maupun yang penasaran dengan keindahannya, selalu memadati jalan menuju pantai di akhir pekan. Jarak yang cukup jauh dari pusat kota serta medan yang menanjak-berliku tidak menyurutkan minat para wisatawan domestik untuk berkunjung. Tidak heran jika di hari sabtu dan minggu jalan menuju ke Pantai Kolo padat merayap seperti layaknya konvoi kendaraan saat pendukung klub sepakbola Arema atau Persija menuju stadion, atau bisa sama dengan para buruh di ibukota negara yang berangkat untuk berdemo.

Perkampungan Pesisir (Dokumentasi Pribadi)

Kamis, 13 Februari 2014

[Humor] Politisi-politisi yang Pandai Bernyanyi



Pada suatu waktu yang telah berlalu, politisi kondang seperti Jusuf Kalla, Abu Rizal Bakrie, Surya Paloh, Prabowo, Wiranto, dan Akbar Tanjung, pernah merasakan persatuan dan visi yang sama dalam satu payung partai, yaitu Golkar. Apabila kitasearching di google seputar mereka, maka dapat kita temui foto-foto kebersamaan mereka dalam balutan jas safari yang sama, berwarna kuning bersimbol pohon beringin. Namun kini bisa dilihat bahwa mereka sudah tidak berada dalam satu partai, hampir semuanya telah bernaung pada partai yang berbeda. Surya Paloh menahkodai Partai Nasdem, Wiranto muncul dengan Partai Hanura, Prabowo kokoh di pucuk pimpinan Partai Gerindra, Jusuf Kalla malah dilamar untuk menjadi Wapres dari Partai Kebangkitan Bangsa, sedangkan walaupun Golkar sudah dipegang oleh Abu Rizal Bakrie, tetap tidak bisa dipungkiri masih saja ada sedikit dualisme kepentingan di dalam kaitannya dengan Akbar Tanjung.

Pada saat terjadi ‘pemekaran partai’ secara besar-besaran itu, sudah tentu banyak para awak media yang semangat untuk meliput. Mungkin satu hal yang tidak ditangkap oleh media tentang mereka adalah bahwa mereka sama-sama hobi dalam bernyanyi. Tidak percaya? Gini nih ceritanya. Pada saat sama-sama memutuskan untuk keluar dari Partai Golkar, mereka yang disebutkan diatas, menyanyikan sebuah syair ciptaan Peterpan [menghapus jejakmu] di depan rapat pimpinan partai :


Masa Transisi dari Kuliah menuju Kerja, antara Rezeki dan Kegalauan


Posisi sulit dalam hidup ini selalu ada. Pada saat kita masih sekolah, masuk kuliah merupakan sebuah proses yang dianggap sulit. Pada saat kita sudah kuliah, maka menyusun tugas akhir adalah masa sulit seorang mahasiswa. Kemudian ketika masa-masa itu telah terlewati, masuklah kita pada babak baru sebelum mendapat pekerjaan, itu masa sulit sebagai seorang alumni perguruan tinggi. Nampaknya masa sulit selalu berganti wajah di setiap perbedaan peran yang dilakukan oleh manusia. Nampaknya hal ini juga yang diistilahkan oleh Einstein sebagai relativitas. Benar kan?

Kondisi yang Terjadi..

Masa penantian untuk mendapatkan pekerjaan relatif beragam; ada yang baru satu bulan menunggu sudah mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keinginannya, ada yang telah menunggu satu tahun akhirnya diterima di suatu instansi, ada pula yang bertahun-tahun ikut seleksi masuk perusahaan namun tak kunjung menuai rezeki yang diharapkan. Ironisnya, kini semakin nyata bahwa perusahaan dan instansi yang membutuhkan pegawai membuat sebuah mekanisme penerimaan yang mulai terkesan aneh. Kenapa aneh? Dahulu kala,

Hamba-Hamba Politik

Termenungku di pelupuk mentari pagi..
Teruap embun kembali berganti..
Setangkai ilalang berayun lemah gemulai..
Diliriknya sinis aku sedari tadi..
Seorang pemuda tengah memikirkan negeri..

Begitu heranku dengan hamba politik..
Memperbudak diri dengan pikiran pragmatik..
Polesan citra berbumbu menarik..
Tingkah polah bertumpu pada rasa fanatik..
Pikirannya sempit, hidup kian tak asyik..

Tak peduli siapa nama yang dibela..
Tak mengerti makna dibalik cara..
Hanya gila akan data dan angka..
Sengaja mengesampingkan fakta agama..
Nyata kini sekularis tengah merajalela..

Jagoan mereka tidak boleh dikritisi..
Darah juang penuh militansi..
Dikedepankan hingga berani mati..
Siapa menghujat seakan siap dikuliti..
Siapa menghina seakan siap dikebiri dan dibully..

Sampai kapan akan terus bertahan..
Jika calonmu kelak menjadi pemimpin rendahan..
Tidakkah dia akan kau tinggalkan..
Begitulah selalu hikayat kepemimpinan..
Sejak dulu, roda politik yang telah kita lewatkan..

Minggu, 09 Februari 2014

Lomba Lari Hanya Pakai Bra, Kedok Kesehatan!





Memikirkan segala hal yang bertema kesehatan di zaman sekarang selalu membuat saya termenung. Ada-ada saja pemberitaan yang memicu tanda tanya, kontroversial dan cenderung ke arah aneh. Kedok kesehatan selalu digunakan oleh pakar-pakar tertentu untuk mengaburkan sesuatu yang lebih bermakna di balik itu semua. Contohnya saja tentang bahaya merokok. Para pakar menyatakan bahwa merokok dapat membunuh manusia secara perlahan, sebab terdapat ribuan zat adiktif berbahaya di dalam setiap batang rokok. Perokok akan memiliki usia yang relative pendek dari pada yang tidak merokok? Benarkah? Berarti yang merokok lebih cepat mati? Pada seminar bertema kebangsaan di kampus Unpad Bandung, Bupati Purwakarta pernah berseloroh : “pernyataan ahli kesehatan luar negeri itu hanya bernada kecemburuan semata. Tidak benar itu kalau merokok berhubungan dengan usia, toh kakek saya perokok hingga usia lanjut tetap eksis tuh. Mereka hanya iri karena tembakau Indonesia kualitasnya nomor wahid!”. Selain itu, para ulama PBNU tidak akan mengharamkan rokok hingga hari kiamat. Terdapat 4 alasan yang beliau-beliau kedepankan. Kalau tidak percaya, silahkan cek di harian merdeka online tertanggal 17 Desember 2013.

Selasa, 04 Februari 2014

[Pendidikan & Pembudayaan] Saya Senada dengan BJ Habibie




Pada sore hari ini para pilar pergerakan organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) bersilaturahim ke kediaman BJ Habibie di kawasan Kuningan. Kegiatan sowan ini yang wajar dilakukan oleh anggota organisasi kepada salah satu Dewan Kehormatannya. Silaturahim membicarakan seputar komitmen ICMI untuk tetap menjadi motor terdepan dalam menghadirkan manusia-manusia unggul demi masa depan Indonesia, dengan berada pada satu wadah organisasi, mereka kudu melepas atribut partai masing-masing jika berada pada pesta demokrasi 2014.

Jenius yang Terasing

BJ Habibie menurut saya pribadi adalah sosok jenius yang, entah kenapa, diasingkan oleh bangsanya sendiri. Seorang yang memiliki revolusi berpikir tingkat tinggi, namun tidak mendapat penghargaan yang semestinya disini. Kenapa lantas negara sekelas Jerman bisa menggunakan kemampuan dan jasa BJ Habibie jika memang kemampuan beliau remeh? Saya sangat berharap beliau bisa memimpin negara ini sekali lagi. Beliau sungguh salah satu idola dari sudut pandang seorang negarawan.

SBY-Indah, Analogi Politik dari Sebuah Bus



Salam sejahtera buat anda para pembaca..


Ah, rasa-rasanya pembicaraan akhir-akhir ini dipenuhi dengan topik politik yang seakan tiada habisnya. Seakan hidup rakyat kita tidak bisa lepas dari politik, sangat mainstreamsekali. Mungkin jargon ‘hidup tanpa politik, bagai sayur tanpa kuah’ cocok buat menggambarkan kondisi ini. Kita kadang tahu bahwa ikon perpolitikan sudah banyak yang menjadi pion dari kepentingan barat. Nah, ketika setiap hari-setiap jam-setiap menit kita membahas ikon itu, maka secara tidak sadar kita sedang mengikuti alur kepentingan tadi. Maka, dengan kata lain, ketika kita cuek dengan isu politik barang satu hari saja maka mereka akan bingung.. Hehe.. Salah satu upaya agar pembahasan tidak mengarah pada suatu yang mainstream, maka ada baiknya aku membahas sebuah topik yang lain. Topik yang menyegarkan tentunya..

SBY-indah merupakan bus AKDP (Antar Kota Dalam Propinsi) di NTB. Bus ini bukan milik presiden atau milik Kota Surabaya. Trayek yang dilayani sebatas Bima-Mataram. Bus ini sudah lama beroperasi, setia melayani penumpang, bahkan jauh sebelum masa presiden SBY menduduki jabatannya. Jika presiden SBY dalam naungan partai demokrat sering keluar trek dalam menyelenggarakan pemerintahan, maka bus ini dalam naungan PO. SBY-Indah tetap konsisten melayani dengan rute yang tetap, tidak pernah mencari jalur lain.




Senin, 03 Februari 2014

[Sosok] Gus Dur “Addakhil”, Sebuah Warna Pemerintahan Indonesia




Selayang Pandang

Menulis tentang sosok kyai selalu punya tantangan tersendiri jika dilakukan dalam negeri kita yang sangat agamis. Lebih dari itu, kita hidup di negara dengan penduduk Islam paling besar di dunia. Aku pun kini berada di Jawa Timur, yang notabene punya sejuta pesona berbagai pesantren, ‘rumah’ bagi ribuan ulama besar. Aku ingin lebih khusus membahas mengenai sosok ulama kharismatik kelahiran Jombang, sekaligus bapak presiden kita yang keempat setelah Soekarno, Soeharto, dan Habibie. Beliau lahir sebagai Abdurrahman Addakhil (“addakhil” = penakluk), tetapi karena tidak cukup dikenal maka diganti menjadi Abdurrahman Wahid. Beliau lahir dari keturunan ulama besar Jawa Timur sekaligus pemimpin Nahdatul Ulama (NU), ayahnya bernama Kyai Wahid Hasyim, kakeknya adalah Kyai Haji Hasyim Asy’ari; para ‘dedengkotnya’ NU. Lahir dari keluarga terpandang, membuat Wahid kecil tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, penuh kekuatan spiritual, elegan, dan mengerti problema umat.

Abdurrahman Wahid ibarat keladi, makin tua makin jadi. Beliau setelah dewasa lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur (Gus panggilan elegan dan penghormatan bagi ulama di Jawa Timur). Alur karirnya dalam dunia politik dibangun dari basis agama, dimana saat itu kaum ulama dan pesantren memegang kendali yang besar dalam tatanan negara. Perlahan namun pasti, beliau meraih dukungan kalangan ulama seluruh Indonesia untuk maju menjadi RI-1. Arah yang jelas baginya, mengingat sebelum berhasil menjadi presiden, beliau aktif di berbagai forum dan perhimpunan pergerakan. Beliau juga tidak sulit mengambil-alih kursi kepemimpinan NU setelah periode sang ayah. Gus Dur menjadi ketua NU selama 3 periode berturut-turut sebelum akhirnya menduduki kursi presiden. Gus Dur diakui sebagai revolusionis dalam tubuh NU, dan selalu disegani oleh presiden Soeharto pada masa itu.

[Unik] St Thomas di Jepang, Mahasiswanya Hanya Satu Orang



Universitas St. Thomas adalah salah satu perguruan tinggi yang ada di Jepang. Civitas academika ini harus aku katakan sebagai salah satu yang punya kebijakan unik. Bagaimana tidak, konsistensinya disorot setelah berita tentang jumlah mahasiswa yang bersedia kuliah disana hanya terdiri dari satu orang. Hal ini terkait dengan kebijakan pihak kampus sendiri. Pada awal berdirinya mereka hanya membuka program studi Interpersonal dan Pemahaman Lintas Budaya. Prodi ini kurang diminati. Akhirnya pihak kampus menggantinya dengan prodi baru, yaitu Pendidikan dan Ilmu Kesehatan Internasional. Awalnya sih, banyak yang berminat. Namun, prodi yang tidak kunjung mendapatkan lisensi (kalau di Indonesia namanya akreditasi), akhirnya semua mahasiswa pindah dari St Thomas, hingga menyisakan satu orang mahasiswa saja.

Jumat, 31 Januari 2014

Nyari Pasangan? Terapkan Filosofi Tangkap Ayam ini!



Ada sebuah kisah menarik yang kalau boleh saya bagi kepada rekan kompasiana sekalian. Kisah yang membawa pada sebuah kesimpulan bijak. Semoga bermanfaat. :)

Aku punya seorang sahabat (Geri—nama samaran), dia masih menempuh kuliah di salah satu perguruan tinggi Yogjakarta. Dia sudah lama tidak punya pacar alias nge-jomblo (tapi dia bersikeras tidak mau disebut jomblo, tapi single). Tepatnya dia sudah tidak pernah lagi merasakan nikmatnya pacaran sejak lulus SMA, berarti udah hampir 4 tahun. Wow! (padahal aku sendiri juga gitu). Hmm, mungkin akibat sudah lama tidak pacaran ini, sehingga Geri menjadi sangat obsesif. Dia sangat berkesan dengan film “Habibie-Ainun” yang kira-kira berkisah tentang romantisnya kehidupan seorang professor Habibie dan dokter Ainun itu. Jadilah Geri, yang sekarang masih mahasiswa semester tingkat akhir jurusan teknik, kian terobsesi mencari seorang wanita yang kuliah di kedokteran. Dia yakin bisa mendapatkan apa yang diinginkan itu. Nah! Setelah keyakinan itu ditanamkan secara mendalam di dasar hatinya, maka dia mulai menjalankan aksi.

Mission Ambune Impossible

Adalah 3 orang wanita (sebut saja Sinta, Santi, dan Sinti) yang masih teman kami juga, coba didekati oleh Geri. Ketiga wanita tadi sama-sama kuliah di kedokteran umum, namun pada perguruan tinggi yang berbeda kota. Sinta didekati terlebih dahulu, namun Sinta tidak pernah memberi harapan. Geri malah dinasehati bahwa diusia segini sudah tidak asyik lagi dipakai buat pacaran, nyari pasangan langsung nikah aja.Geri tidak mau menyerah, tiap hari dia nelpon ngajakin Sinta langsung nikah setelah selesai kuliah. Sinta yang merupakan gadis baik selalu dengan sabar mengatakan bahwa tidak ada perasaan yang berlebih pada hatinya. Lama-kelamaan Geri patah semangat, dan menjauh secara perlahan.

Tidak lama berselang, Geri kemudian mencoba peruntungan dengan mendekati Santi. Kali ini Geri lebih mudah melakukan pe-de-ka-te, sebab Santi berada satu kota dengannya. Santi lebih mewah hidupnya dari Sinta, body-nya pun lebih bahenol. Geri sudah kenal lama dengan Santi ini, malah sudah sangat akrab, namun baru kali ini dia mencoba menyatakan cinta. Pertama, karena Santi baru saja 3 bulan putus sama pacarnya; kedua, demi obsesi pribadinya terhadap mahasiswa kedokteran. Apalah yang mau dikata, ketika cinta telah dinyatakan, bukan penerimaan yang didapat. ‘Maaf Ger, aku sudah anggap kamu teman, tidak lebih, aku sudah tahu semua baik-buruknya kamu, tidak akan cocok dengan aku sampai kapanpun. Lebih baik kita berteman saja’. Degg! Ungkapan yang sama datang dari Sinti, ketika Geri mengalihkan incaran padanya. Sinti adalah adik tingkat Geri ketika SMA. Geri ingin mencoba peruntungan dengan menembak gadis di bawah umur [dibawah umurnya dia maksudnya]. Sinti ternyata tidak pernah suka sama Geri!

Syair Teruntuk Korban Banjir





Tetes air mata tiada henti membasahi pipi..
Memandang jenuh air surut selutut kaki..
Banyak sudah harta kami raib dibawa pergi..
Anak semata wayang pun hanyut terbawa lari..
Oleh deru amukan bah semalam tadi..

Kepingan takdir datang keras mengkerak..
Hendak jiwa kubiarkan berteriak..
Namun tubuh ini kaku, kelu, enggan bergerak..
Tetanggaku, kampungku, semua histeris berontak..
Aku tak bisa, hanya istri kini bersandar di pundak..

Aku ingin berduka, menumpah segala asa..
Aku ingin kecewa, menghina sebuah sandiwara..
Aku ingin putus asa, meregang sendiri tali nyawa..
Seketika kelebat hitam hadir ingatkan dosa..
Dosa, kegemaran setiap umat manusia..

Insan bijak banyak bertanya..
Adakah banjir ini salah siapa..
Apakah tata ruang serta rencana kota..
Sungguh, tidak ada apa dan bagaimana..
Hanya manusia yang sudah lupa kodratnya..

Kusadari kini kelalaian datangkan cobaan..
Untuk yang memuja ‘berhala’ kejahatan..
Untuk yang menggilai haramnya obat-obatan..
Untuk yang membabi buta tebang hutan..
Untuk yang rakus korupsi di pemerintahan..

Kini, aku tak berharap dikunjungi kepala negara..
Alihkan saja uang jalan agar terbebas kami dari lara..
Kampung ini kian kumuh bagi tamu istimewa..
Biarlah kami saja yang menderita..
Tak perlu kalian memakai topeng pura-pura..

Wahai, Tuhan Yang Mendengarkan..
Datangkan banjir ini untuk kebaikan..
Hapuskan dosa dan kekejian..
Gantikan generasi penuh kebobrokan..
Hingga negeri aman penuh kedamaian..