Salam Pembuka

Kehidupan adalah hal yang tidak dapat diprediksikan, tetapi kualitas hidup sangat butuh untuk direncanakan..
Hasil baik yang dicapai hari ini merupakan buah dari rencana matang yang ditentukan hari kemarin..
Maka berbuatlah baiklah untuk hari ini, sembari memikirkan suatu yang lebih baik untuk hari esok..

Selasa, 29 Januari 2013

MEMORI TENTANG BINTANG


Gelap menghampiri diri..
Menghembuskan desah kebimbangan..
Aliran itu perlahan, datang menghujam..
Aura ini masih dan selalu sanggup balikkan segalanya..
Mimpi tentang cita, harapan pada cinta..
Kobaran semangat untuk maju, suara hati untuk berjalan..
Goresan tinta tak lebih hanya wujud ketidakpuasan..
Untuk waktu, tenaga, pikiran yang tersia-siakan..
Malam ini bintang serentak menertawakanku..
Menunjuk tegas keningku sebagai pelaku kebodohan..
Knapa untuk waktu kau banyak siakan??
Kenapa untuk tenaga tak kau maksimalkan??
Dan.. Kenapa pikiran kau lenakan??
Makanan pun kini sudah terlanjur basi..
Merengek terhadap perubahan..
Mendendam atas kecerobohan..
Begitu amat pilu terasa disini..
Di kamar penuh memori..
Terbujur lemah,, menatap bintang lagi..

Rabu, 16 Januari 2013

CINTA IBU TAK TERGANTI


Kutatap seraut wajah penuh cahaya..
Mata yang pancarkan sejuta kasih..
Begitu damai dunia dalam peluknya..
Tak ingin lepas walau ribuan tetes embun janjikan kesejukan..

Goresan penaku selalu tetang dirinya..
Tentang kebanggaanku lahir dari rahimnya..
Namun semakin aku berusaha menuliskan..
Kurasakan kertas dan tinta ini tak akan cukup..

Kadang terlihat olehku matanya sembab..
Terisak untuk sekedar mengadu..
Betapa dunia tak lagi bersahabat..
Mengubur banyak impian akan kebahagiaan..

Ibu..
Sungguh kau malaikat bagiku..
Berjuang menghidupiku seorang diri..
Terkadang aku menyesali tentang keluarga yang tak lengkap..
Sementara kau selalu ajarkan ketulusan padaku..

Ibu..
Lihatlah diriku sejenak..
Putra kecilmu ini sedang merajut harapan..
Tak ingin lagi kulihat air matamu..
Janjiku akan selalu bahagiakan hari tuamu..

Minggu, 13 Januari 2013

KASIH DARI SURGA


Pendar kemilau cahaya matahari pagi
Terduduk masih dalam bayangan rembulan malam tadi
Hembusan nafas perlahan nan panjang, mungkin tenangkan hati
Lamunan tiada berhenti datang silih berganti
Wajah-wajah yang sangat kukenal bergelayut lagi
Menggantung kaku di ujung mata yang membentuk bias pelangi
Hanya deraian air mata kerinduan sbagai jawaban pasti
Atas ribuan memori kenangan yang tercetak rapi
Atas doa yang masih tetap dipanjatkan, agar aku bahagia sebelum menyusul mati
Atas titipan patuah yang seakan tak pernah hanyut bersama badai hidup ini
Mereka sungguh hebat, tak henti lisanku meracau memuji
Sebuah keindahan hidup, dan tak akan terganti
Peluk seluruh keresahanku, hidup tlah penuh dengan duri
Yakinkan aku bahwa kasih sayang kalian masih menemani
Hingga kelak aku bisa untuk sekedar melukis sketsa kebahagiaan surgawi

Jumat, 11 Januari 2013

SKETSA KELAM


Telah penuh pikiran ini tentang mereka
Jiwa-jiwa yang mengajari dosa
Manusia diperbudak masa lalu
Mencoba bangun peradaban sendiri
Teriakan, caci-maki, menyulut kebengisan totaliter
Bergidik saat kucoba kembalikan angan
Dahulu, di era sembilan belas tiga tiga
Melangkahi jutaan mayat sudah biasa
Menghitung hari untuk menjemput hal yang sama
Rasisme mendasari pembenaran atas pembunuhan
Teori luar biasa pengaruhi kaum lemah yang bodoh
Saat para tetua sakit di tiang gantungan
Air mata ini berubah merah, berdarah

AGAMA ABAD DUA PULUH


Suara desing peluru abad dua puluh
Menembus paru tak sisakan teriakan
Mimpi menghidupkan manusia dalam satu bendera
Tahukah kalian siapa mereka
Sudikah kalian menatap wajah
Yang dengan satu tatapannya kau terkulai lemah
Hidup rakyat kecil hanya diperbudak
Melawan pun kau mati sbagai budak
Pasti...
Prahara besar datang dari pikiran picik
Mengumbar kepandaian berbulu kelicikan
Mendogma-kan agama dari modal kekafiran
Agama ajarkan kasih sayang, namun mreka membunuh
Agama ajarkan memberi, namun mereka merampas
Agama anugerahkan perdamaian, tapi mereka kobarkan perang
Tuhan..
Jaga manusia yang hidup sekarang..
Agar tidak pernah ada lagi kepicikan dan kefasikan..

TIGA SERANGKUL



Nampaknya apa yang dikatakan oleh sebagian orang memang benar adanya, bahwa hidup ini dinilai berdasarkan apa yang pernah kita lihat. Pada tahun 2003, saat aku masih duduk di Madrasah Tsanawiyah, pelajaran agama kurasa amat menarik sampai termanifestasikan ke dalam perilaku sehari-hari. Contoh kecilnya saja, saking seringnya memakai kopiah aku sampai lupa tidak memakai helm di saat ada razia lalu lintas. Selain itu, bulu kaki ini panjang melambai karena sering menggunakan celana panjang. Suasana berubah ketika aku akan masuk SLTA. Ayah begitu ‘ngebet’ memasukkan aku ke sekolah agama (lagi), tetapi aku berhasil meyakinkan beliau bahwa atmosfer persaingan di sekolah umum akan lebih terasa. Hatiku juga menambahkan : “yang pasti cewek-ceweknya juga lebih terasa”. Nah, jadilah nilai-nilai keagamaan yang telah dipupuk akhirnya kering kerontang akibat tidak disirami. Dunia baru itu justru sangat menarik, ada sebuah dinamika. Banyak kontroversi, obsesi, manipulasi, sampai harus pake dasi. Tidak ada rasa kaku seperti biasanya, membuat hatiku merasa inilah duniaku. Disini aku “belajar” bolos melewati tembok setinggi 2 meter, aku belajar trik mengambil rokok di kantong satpam yang sedang tertidur di tempat duduknya, tak lupa juga aku pahami metode korupsi uang OSIS untuk kegiatan-kegiatan yang saat ini baru kusadari sebagai hedonisme anak-anak alay.

GELORA CINTA ANAK DESA


Filosofi yang seringkali terdengar menyapa telingaku sejak dahulu adalah bahwa setiap manusia diciptakan memiliki hati agar dapat mencintai. Hal itu yang kemudian membawa lamunanku pada potongan kisah hidup yang telah terangkai 13 tahun yang lalu. Aku adalah Faqih, anak sulung dari tiga bersaudara. Kami hidup sebagai keluarga bahagia di sebuah kota kecil di ujung timur Pulau Sumbawa, Kota Bima namanya. Ayahku seorang PNS yang telah bergolongan 4A, sedangkan ibu hanya bekerja di rumah, padahal beliau bergelar sarjana. Setelah dewasa baru aku tahu kisahnya. Beliau sebenarnya dulu nyaris bekerja sebagai pegawai bank. Ayahku melarangnya untuk bekerja, dengan berbagai pertimbangan tentunya.