Salam Pembuka

Kehidupan adalah hal yang tidak dapat diprediksikan, tetapi kualitas hidup sangat butuh untuk direncanakan..
Hasil baik yang dicapai hari ini merupakan buah dari rencana matang yang ditentukan hari kemarin..
Maka berbuatlah baiklah untuk hari ini, sembari memikirkan suatu yang lebih baik untuk hari esok..

Kamis, 13 Februari 2014

[Humor] Politisi-politisi yang Pandai Bernyanyi



Pada suatu waktu yang telah berlalu, politisi kondang seperti Jusuf Kalla, Abu Rizal Bakrie, Surya Paloh, Prabowo, Wiranto, dan Akbar Tanjung, pernah merasakan persatuan dan visi yang sama dalam satu payung partai, yaitu Golkar. Apabila kitasearching di google seputar mereka, maka dapat kita temui foto-foto kebersamaan mereka dalam balutan jas safari yang sama, berwarna kuning bersimbol pohon beringin. Namun kini bisa dilihat bahwa mereka sudah tidak berada dalam satu partai, hampir semuanya telah bernaung pada partai yang berbeda. Surya Paloh menahkodai Partai Nasdem, Wiranto muncul dengan Partai Hanura, Prabowo kokoh di pucuk pimpinan Partai Gerindra, Jusuf Kalla malah dilamar untuk menjadi Wapres dari Partai Kebangkitan Bangsa, sedangkan walaupun Golkar sudah dipegang oleh Abu Rizal Bakrie, tetap tidak bisa dipungkiri masih saja ada sedikit dualisme kepentingan di dalam kaitannya dengan Akbar Tanjung.

Pada saat terjadi ‘pemekaran partai’ secara besar-besaran itu, sudah tentu banyak para awak media yang semangat untuk meliput. Mungkin satu hal yang tidak ditangkap oleh media tentang mereka adalah bahwa mereka sama-sama hobi dalam bernyanyi. Tidak percaya? Gini nih ceritanya. Pada saat sama-sama memutuskan untuk keluar dari Partai Golkar, mereka yang disebutkan diatas, menyanyikan sebuah syair ciptaan Peterpan [menghapus jejakmu] di depan rapat pimpinan partai :


Wiranto : “Terus melangkah melupakanmu, lelah hati perhatikan sikapmu..”

Surya Paloh : “Jalan pikiranmu buatku meragu, tak mungkin ini tetap bertahan, perlahan mimpi terasa mengganggu, kucoba untuk terus menjauh..”

Prabowo : “Perlahan hati kuterbelenggu, kucoba untuk lanjutkan hidup..”

Reff Serentak : “Engkau bukanlah segalaku, bukan tempat tuk hentikan langkahku, usai sudah semua berlalu, biar hujan mengahapus jejakku..”

Setiap peserta rapat terkesima oleh duet yang dibawakan oleh orang-orang yang notabene selama ini menjadi pilar penting bagi partai. Mereka harus merelakan keinginan yang sudah bulat itu. Tiba-tiba pimpinan partai rapat saat itu pun membalas dengan sebuah syair dari Almarhum Chrisye [Pergilah Kasih] :

Pergilah kasih kejarlah keinginanmu, selagi masih ada waktu, jangan hiraukan diriku, aku rela berpisah demi untuk dirimu, semoga tercapai segala keinginanmu..”

Tren menyanyikan syair lagu dari salah satu partai politik paling sepuh di Indonesia ini kemudian mewabah hingga ke seluruh organisasi partai lain, menciptakan semacam perilaku sosial yang digandrungi oleh partai-partai yang tergolong ‘pemain baru’. Partai Demokrat yang pada saat itu tidak serta merta mencalonkan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum, hingga menimbulkan pro-kontra di kalangan internal partai. Kemelut ini membuat Anas sedikit gerah, dan mulai mengeluarkan curhatnya lewat lagu Armada [Hargai Aku] yang ditujukan untuk orang-orang yang kontra dengannya :

Seringkali kau merendahkanku, melihat dengan sebelah matamu, aku bukan siapa-siapa.. Selalu saja kau anggapku lemah, merasa hebat dengan yang kau punya, kau sombongkan itu semua.. Coba kau lihat dirimu dahulu sebelum kau nilai kurangnya diriku, apa salahnya hargai diriku, sebelum kau nilai siapa diriku..

Para anggota DPD dan DPC seluruh Indonesia kemudian terhenyak melihat Anas yang sangat menggebu dan percaya diri, sehingga mereka hanya mempertanyakan sedikit kebimbangan melalui lagu Sheila On7 [Seberapa Pantas] yang mereka unggah seadanya lewat Youtube :

Seberapa hebatkah kau untuk kubanggakan? cukup tangguhkah dirimu untuk selalu kuandalkan? mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang? sanggupkah kau meyakinkan disaat aku bimbang?

Pada pemilihan Gubernur DKI Jakarta, dimana berbagai lembaga survei menyatakan bahwa kandidat incumbent (Foke) akan menang lagi dalam satu putaran, tetapi hasilnya malah terpaut jauh. Jokowi-Ahok justru menang dengan meyakinkan. Foke akhirnya bernyanyi dengan lagu Repvblik [Sandiwara Cinta] ditujukan kepada lembaga-lembaga survei yang dirasa telah menipunya :

Aku tahu ini semua tak adil, aku tahu ini sudah terjadi, mau bilang apa aku pun tak sanggup, air mata pun tak lagi mau menetes.. Alasannya seringkali kudengar, alasannya seringkali kau ucap.. kau dengannya seakan ku tak tahu, sandiwara apa yang tlah kau lakukan, kepadaku..

Selain itu, politisi sekaligus pengusaha, Hary Tanoe, awalnya bergabung dengan Nasdem. Namun karena satu dan lain hal, mungkin karena tidak ditempatkan di jajaran petinggi partai, maka dia ditarik oleh Hanura untuk menjadi kandidat Wapres mendampingi Wiranto. Hal ini membuat Nasdem sedikit terluka, sehingga membuat petinggi-petinggi partai melantunkan lagu Samson [Luluh] dalam rangka melihat kepergian salah satu pentolannya :

Saat terindah saat bersamamu, begitu lelapnya aku pun terbuai, sebenarnya aku tlah berharap, ku kan memiliki dirimu selamanya.. Segenap hatiku luluh lantak, mengiringi dukaku yang kehilangan dirimu, sungguh ku tak sanggup tuk meredam kepedihan hatiku, untuk merelakan kepergianmu..

Pertanyaan seputar siapa yang akan dipilih oleh PKB sebagai calon RI-1 terjawab sudah oleh Ketum Partai, Muhaimi Iskandar. Beliau mengkonfirmasi bahwa satu-satunya calon Capres dari PKB adalah Rhoma Irama, sedangkan Mahfud MD dan JK hanya disiapkan sebagai kandidat Wapres. Hal ini membuat Mahfud MD bisa juga melantunkan lagu dari Iwan Fals [Aku Bukan Pilihan] :

Aku lelaki tak mungkin menerima mu, bila ternyata kau mendua, membuatku terluka.. Tinggalkan saja diriku yang tak mungkin menunggu, jangan pernah memilih, aku bukan pilihan..

Itulah beberapa hiburan mengenai hiruk-pikuk dunia politik di Indonesia.. Sebenarnya jika disambung terus tidak akan cukup untuk mengakomodasi lagu 10 album, dan lembaran kertas tulisanku pun akan mengahabiskan 10 buku. Satu hal yang menarik adalah, bahwa selama ini politik selalu disikapi serius, hingga menjelma bagaikan kisah pertumpahan darah dalam sejarah kerajaan. Politik kita kurang dalam mengakomodasi cinta, yang selalu membawa kedamaian dan ketentraman, seperti makna yang terkandung dalam syair lagu-lagu para musisi & komposer. Kenapa musisi dan komposer saja yang bisa berlaku romantis? Sedangkan ketika sudah masuk ranah politik malah saling menjatuhkan. Manusia Indonesia mungkin tidak konsisten dalam hal ini.. hehe..