Salam Pembuka

Kehidupan adalah hal yang tidak dapat diprediksikan, tetapi kualitas hidup sangat butuh untuk direncanakan..
Hasil baik yang dicapai hari ini merupakan buah dari rencana matang yang ditentukan hari kemarin..
Maka berbuatlah baiklah untuk hari ini, sembari memikirkan suatu yang lebih baik untuk hari esok..

Sabtu, 25 Februari 2017

JUJUR ITU MANJUR (Sekelumit Kalimat Tentang Good Corporate Governance)

Hal yang sangat aneh ketika melihat orang-orang yang tetap bertahan dengan ketidakjujuran untuk memperoleh sesuatu, padahal mereka tahu tentang konsep “rezeki sudah ada bagiannya masing-masing”, selain itu mereka juga mengerti bahwa Rasul mereka, Muhammad SAW, disegani karena kejujurannya bukan kecurangan.

Dunia bisnis memang sadis, tetap mengacu pada paradigma yang dibentuk oleh para kapitalis, bahwa siapa yang paling opportunis dialah yang jualannya laris. Tidak jarang para pebisnis yang takut uangnya habis, seperti kata AA Gym : mereka tidak paham bahwa yang memerintahkan jujur itu Allah sendiri, dan yang memberi rezeki itu juga Allah, lantas kenapa harus tidak jujur?


Suatu malam saya duduk bersama bapak di depan televisi, begitu serius memperhatikan berita yang cukup heboh. Berita itu seputar tiga anggota keluarga yang sepakat untuk bunuh diri dengan meminum racun serangga. Mereka diduga bunuh diri karena himpitan ekonomi dan kegagalan dalam bisnis. Hal itu diketahui dari surat wasiat yang ditinggalkan oleh mereka. Melihat itu bapak saya merasa geram.

Bapak : “Kok mau ya istri dan anaknya yang masih balita juga minum racun serangga itu hanya untuk memenuhi obsesi sang suami yang gagal dalam bisnis? Bisnis tidak akan ada yang gagal, asal jujur dan bekerja keras. Sukses hanya masalah waktu saja. Cobaan dari Allah itu memang paling sering datang dalam dunia bisnis (dagang), kalau mereka bisa lolos dari cobaan itu jaminan sukses deh. Coba lihat orang-orang besar di dunia bisnis, mereka besar hasil dari jatuh bangun yang kadang membuat hampir putus asa. Tapi mereka bangkit lagi, kumpulin modal lagi, tetap berbisnis dengan jujur lagi.

Saya : “Berarti keluarga yang bunuh diri dalam televisi itu gagal dalam ujian Allah ya Pak?”

Bapak : “Bukan gagal lagi namanya itu. Mereka menyerah sebelum menghadapi ujian. Dan kamu tahu sendiri balasan bagi orang yang bunuh diri di akhirat kelak, mereka dicap sebagai hamba yang berputus asa dari rahmat Allah. Siksanya luar biasa Nak!

Begitulah sekelumit pembicaraan ringan saya dengan Bapak, yang sudah saya anggap sebagai the first and the best teacher dalam hidup. Selalu ada nuansa pencerahan dalam sesekali pembicaraan dengan Bapak, walaupun Bapak jarang banyak bicara.

Kembali ke topik tentang kejujuran tadi. Ada sebuah sejarah sekaligus pelajaran berharga tentang kejujuran yang terjadi dalam dunia bisnis dalam 10 tahun belakangan ini. Salah satunya berdasarkan survei majalah Fortune terkait badai kebangkrutan yang dialami sejumlah perusahaan di negeri Adidaya, seperti Enron, Qwest Communications, Global Crossing, Tyco, WorldCom. Perusahaan-perusahaan itu selama ini dikenal sebagai deretan yang paling kokoh bertengger di Wall Street dalam hal penjualan sahamnya. Sekarang, pertanyaannya adalah apa yang terjadi dengan mereka sehingga mengalami kehancuran? Ternyata di dalam perusahaan-perusahaan kelas wahid itu terdapat para jajaran eksekutif yang “nakal”. Para jajaran direksi dari sejumlah perusahaan itu awalnya dengan sadar merancang kinerja palsu perusahaan, dengan cara menyewa creative accounting, kapitalisasi expense, transaksi off-balance sheet, transfer ke akun-akun ganda, dan lain sebagainya. Mereka juga mengundang konsultan top dunia untuk membuat blue-print perusahaan dan model bisnis yang solid, sehingga laku keras ketika sahamnya dijual di Wall Street. Selanjutnya mereka bermain nakal dengan para analis bank investasi dunia untuk meroketkan harga saham. Kemudian saat harga saham sudah mencapai puncaknya, para eksekutif menjualnya. Mereka meraup untung yang tak terkira. Namun setelah saham perusahaan-perusahaan itu dibeli oleh investor, baru disadari bahwa internal perusahaan-perusahaan itu ternyata lapuk dan hanya “cantik” luarnya saja karena hasil manipulasi data yang sungguh luar biasa!

Kisah kegagalan gurita bisnis di benua Amerika itu bisa kita ambil satu kesimpulan, bahwa sesungguhnya paradigma yang harus dibentuk dalam berbisnis bukan saja berbicara laba atau rugi, tapi lebih dari itu harus berkenaan dengan pembentukan nilai moral dan etika. Kejujuran dalam bisnis adalah bagian dari pembentukan etika, karena itulah yang kemudian akan membedakan kita terpenjara menjadi Economic Animal ataukah merdeka sebagai Ethical Human.

Jika saya boleh mengutip sebagian pesan Abdullah Gymnastiar dan Hermawan Kartajaya dalam buku mereka yang berjudul “Berbisnis dengan hati (The 10 Credos of Compassionate Marketing)“ bahwa dalam berbisnis uang itu nomor sekian.

Pertama, yang namanya untung itu kalau bisnis menjadi ladang amal. Karena kita semua pasti mati dan yang dibawa ke akhirat itu bukan uangnya, tapi amalnya. Oleh karena itu sejak mulai dari niat harus benar. Kalau niat sudah salah, cara juga salah, tindakan kita tidak akan menghasilkan amal walaupun menghasilkan uang.

Kedua, yang disebut untung kalau dalam bisnis adalah nama kita menjadi lebih baik. Nabi Muhammad itu benar-benar menjadi orang yang sangat credible, Al-Amin, seorang yang sangat-sangat terpercaya. Nama baik dalam bisnis itu sangat penting.

Ketiga, yang namanya untung itu ketika dalam bisnis bisa menambah ilmu, pengalaman, wawasan. Tanpa penambahan ilmu dan wawasan, keuntungan bisa jadi bumerang. Segalanya berubah dalam hidup ini, saat ini untung tapi bisa jadi besok lusa keuntungan bisa jadi sumber kerugian jika kita tidak punya pengalaman yang cukup untuk menyikapinya.

Keempat, keuntungan adalah ketika dengan bisnis menambah silaturahmi, menambah saudara, karena persaudaraan itu mahal. Buat apa uang banyak kalau musuh pun semakin banyak. Kalau orang-orang sudah sayang sama kita sebagai saudara, maka mereka secara tidak langsung menjadi tim marketing kita.

Kelima, yang disebut keuntungan apabila makin banyak orang yang juga mendapatkan keuntungan, karena setiap orang yang mendapatkan untung dari bisnis kita, mereka akan menjadi bagian tak terpisahkan dalam memperbesar usaha kita.

“Leaders who look only for external goals, such as money, will fail” (Deepak Chopra)