Salam Pembuka

Kehidupan adalah hal yang tidak dapat diprediksikan, tetapi kualitas hidup sangat butuh untuk direncanakan..
Hasil baik yang dicapai hari ini merupakan buah dari rencana matang yang ditentukan hari kemarin..
Maka berbuatlah baiklah untuk hari ini, sembari memikirkan suatu yang lebih baik untuk hari esok..

Rabu, 27 Februari 2013

^_^ LIKA-LIKU JOBSEEKER (Based On Personal Funny True Story)


Aku adalah anak sulung dari 3 bersaudara. Kedua saudaraku saat ini sedang mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Sedangkan aku baru saja diwisuda 2 bulan yang lalu. Selama ini aku merasa orang tua sungguh sangat berat membiayai 3 anaknya sekaligus yang kuliah (walaupun mereka enggan mengakui). Mereka sosok yang benar-benar tegar. Hanya ayahku yang bekerja, sedangkan ibu mengabdi sepenuhnya untuk urusan rumah tangga. Hal itu kemudian sering melecut semangatku untuk mendapatkan pekerjaan sesegera mugkin. Tak kurang dari 20 kali aku mencoba melamar pekerjaan di perusahaan swasta, tetapi seringkali gagal. Aku tidak pernah menyesal telah ikut dalam bursa-bursa kerja tersebut, aku bisa menambah wawasan tentang dunia kerja. Toh, akhirnya saat ini aku bisa menemukan pekerjaan yang memang aku gemari, jobnya sesuai dengan jurusanku. Aku menyadari satu hal : "ketika sebuah harapan tidak sesuai dengan kenyataan, maka Allah sedang menyediakan sesuatu yang lebih baik di balik semuanya". 


Selain pengalaman, banyak cerita lucu yang mengikuti perjalananku melamar pekerjaan di perusahaan swasta. 1) Cerita pertama, aku dipanggil oleh perusahaan manufacture (sebut saja W - Group) untuk mengikuti proses seleksi interview. Peserta disuruh hadir jam 10.00 wib. Ketika tiba giliranku, aku masuk ruangan personalia. Terjadilah percakapan seperti ini :
HRD : "Selamat pagi, Mas.. :)"
Aku : "Selamat pagi juga Pak, Assalamu'alaikum"
HRD : "Wa'alaikumsalam, silahkan duduk. Dengan mas siapa ya?"
Aku : "Seperti yang ditulis di kertas itu pak, saya Faqih Ashri"
HRD : "Oke, Mas Faqih. Anda disini melamar di bagian Marketing. Apa itu marketing menurut Anda?"
Aku : "Menurut saya, marketing itu terkait dengan proses pemasaran dan ekspansi produk.. :) "
HRD : "Anda ini dari jurusan teknik planologi, jurusan apa itu?"
Aku : "Wah, itu kalau isitlah kerennya teknik perencanaan wilayah dan kota, pak"
HRD : "Nah, jurusan Anda saja sudah beda. Apa anda yakin bisa disini? Sudah pernah jualan?"
Aku : "Kalau untuk jurusan menurut saya tidak masalah pak, di jurusan saya sudah sering berhadapan langsung dengan masyarakat. Jadi untuk job kerjaan yang mengharuskan berhadapan dengan masyarakat seperti marketing ini akan sama saja esensinya. Kalau untuk pernah jualan, saya cuma pernah jualan madu serabutan gitu pak. :)"
HRD : "??? :) Duduknya yang rileks saja Mas, nggak usah tegang"
Aku : Waduh, memang gini cara duduk saya, pak :)"
HRD : "Mas ini dari Kota Bima ya? saya dulu pernah kesana ngantarin produk-produk kami"
Aku : orang ini mulai ngelantur kayaknya.. "Ooo.. Nggak mau kesana lagi pak?"
HRD : "Insya Allah, kapan-kapan mas.. Ya udah, interview-nya kita cukupkan sampai disini. Selamat ya. Nanti dihubungi lagi.

Mayoritas manusia pasti mengira kata "Selamat" itu adalah sebuah pertanda baik yang coba dilontarkan olehnya sebagai jaminan keberlanjutan. Tetapi entah apa yang mau dikata, seminggu, 1 bulan, hingga stengah tahun aku menunggu tidak ada telepon dari mereka. Entah telepon mereka dicabut sama pihak Telkom karena nunggak bayar atau memang HRD terlalu terkesan dengan wawancaranya denganku. Entahlah!

2) Cerita kedua, hari itu (lupa tepatnya tanggal berapa) di bulan Februari 2012. Aku dan teman jurusan (sugeng) dipanggil untuk wawancara kerja oleh salah satu perusahaan penjualan motor yang memiliki nama besar di Indonesia (sebut saja N-Motor). Pada hari itu dijadwalkan psikotes dan interview. Pagi harinya psikotes, setelah itu dilanjutkan denga interview oleh HRD-nya. Ketika kami ternyata lolos dari psikotes, siangnya kami harus berhadapan dengan HRD untuk interview. Entah apa maksud mereka, kami berdua diletakkan di nomor urut terakhir untuk antrian wawancara. Ketika peserta lain sudah pulang, kami mendapat giliran masuk ruangan berdua skalian. Terjadilah percakapan berikut :
HRD : "Kalian yang namanya Faqih dan Sugeng kan?"
Aku dan Sugeng : "Iya Pak" (hampir bersamaan).
HRD : "Saya tahu kalian dari jurusan yang sama. Sekarang saya nanya sama kalian, siapa yang bisa jawab langsung saja. Pertama, apa yang kaliam ketahui tentang perusahaan kami?"
Aku : "N-Motor adalah sebuah perusahaan nasional yang menawarkan jasa penjualan sepeda motor, mempunyai ratusan cabang di indonesia"
HRD : "Apa yang kalian ketahui tentang posisi yang ditawarkan saat ini, Management Trainee?"
Sugeng : "Setahu saya sih kita dikumpulkan (ditraining) selama waktu tertentu untuk diorbitkan pada posisi tertentu di perusahaan"

Singkat cerita, ketika sudah panjang lebar pertanyaan telah dilontarkan kepada kami berdua. HRD itu nampak terkagum-kagum dengan jawaban kami berdua. Akhirnya aku mencolek Sugeng sebagai isyarat untuk membicarakan apa yang kami berdua bahas di luar sebelum masuk ruangan. Akhirnya sugeng memberanikan diri buka suara :
Sugeng : "Begini pak, kami sebenarnya ingin sekali segera bekerja, tetapi posisi kami saat ini belum menyelesaikan kuliah, jadi baru selesai Seminar Hasil Skripsi, belum sidang da belum wisuda"
HRD : Kaget.. "Waduh!! Kok kalian baru ngomongin sekarang sih?? Tak kirain kalian sudah lulus.. -__-"
Aku dan Sugeng : "^_^"
HRD : "Begini saja, kalian kembali ke kampus, selesaikan hingga wisuda. Setelah itu kalian bisa hubungi nomor telepon saya kapan pun, nanti kami proses lebih cepat. gimana?"
Aku : Wah, baik pak kalau sperti itu. Terima kasih. Kami pamit" Pamit. Sungkem.
Kami akhirnya pulang dengan hati lega. Kalau hal tadi tidak diungkapkan sampai tiba waktu kami ditraining maka itu menjadi petaka buat kami sendiri. Keluar dari ruangan HRD saat itu menjadi angin segar bagi kami, karena mendapat pengalaman yang berharga sekaligus lucu ketika diingat kembali.

3) Cerita Ketiga, suatu malam aku dihubungi oleh bagian personalia sebuah perusahaan roti dan makanan level nasional. Aku diminta datang besok paginya untuk mengikuti interview kerja. Aku diberikan alamat lengkap dan waktu untuk datang menghadiri interview tersebut. "Mas, besok diharapkan ontime ya, sampeyan dapat shiff (kelompok waktu) pertama, jam 10 pagi" begitu katanya menegaskan.

Besoknya jam 9.30 wib aku sudah meluncur ke alamat yang diberikan semalam. Sepanjang jalan tempat alamat itu berada sama skali tidak ada tanda-tanda ada kantor sebuah perusahaan kue, level nasional tentunya. Setelah mondar-mandir, bolak-balik 3 kali baru aku sadar, mataku tertuju pada bangunan baru yang masih penuh dengan tukang kayu dan tukang batu yang bekerja. Pada lantai 2 bangunan belum jadi itu ada spanduk bertuliskan nama perusahaan yang menelpon semalam (sebut saja H-Cake). Aku dengan percaya diri masuk, toh dari luar nampak sepi, hanya ada tukang-tukang yang sedang bekerja. Ternyata eh ternyata, setelah aku masuk melewati pintu gerbangnya, semua mata orang-orang yang berdasi + pakai Fantovel + baju berkerah, pandangan mereka tertuju padaku. Entah karena aku terlihat paling keren atau karena telat, sulit membedakannya. ^_^. Mereka teryata mahasiswa-mahasiswa yang juga diundang.

Setelah menunggu selama 30 menit, kelompok HRD sampai ke lokasi dengan menggunakan mobil. Ada 5 orang yang nampak memasuki ruangan (yang belum jadi) itu. "Wah, HRD saja boleh telat" pikirku. Setelah menunggu mereka mempersiapkan ruangan, peserta interview Shift-1 (jam 10) mulai dipanggil, padahal saat itu sudah jam 11. Inilah indonesia bung, Molor!!

Singkat cerita, semua peserta shift-1 sudah selesai, tinggal aku seorang. Tetapi anehnya namaku tak kunjung dipanggil. Malah mereka mulai memanggil nama peserta yang berada di kelompok shift-2. Sebelum peserta-peserta itu masuk, aku nekat untuk menerobos masuk melewati kerumunan orang untuk menuju ke dalam ruang interview. Para HRD di dalam kaget, karena aku bukan orang yang mereka panggil. Di dalam ternyata ada 3 HRD yang tugasnya mewancarai  1 orang peserta. "Pantas aja lama" batinku. Akhirnya terjadilah percakapan seperti ini :
HRD-1 : "Lho, Anda ini siapa? kami belum memanggil anda"
Aku : "Saya faqih pak. Saya masuk shift-1, sudah tak tunggu dari jam 9.30 sampai skarang jam 12.00 saya belum juga dipanggil, makanya saya langsung masuk"
HRD-2 : "Ooo.. Maafkan kami kalau begitu. Silahkan duduk Mas Faqih. Anda melamar di posisi apa?"
Aku : "Supervisor, Pak"
Perlu diketahui, kalau peserta-peserta sebelumnya yang melamar di posisi lain mereka ditanyakan dulu apa yang diketahui tentang posisinya itu, dan lain-lain.. sedangkan aku? tidak sama skali!
HRD-2 :  "Sudah ada pengalaman jadi supervisor sebelumnya?"
Aku : "Belum Pak"
HRD-2 : "Waah, gini ya mas faqih.. kami ini kan perusahaan skala nasional. jadi harus ketat dan benar-benar telaten dalam memilih karyawan untuk perusahaan kami, apalagi seorang supervisor. butuh pengalaman dan juga keuletan kerja, kedisiplinan yang sangat berbeda dari karyawan-karyawan biasa. Mas faqih ini kan belum ada pengalaman apa-apa di posisi supervisor."
Aku : "Begini ya Pak. Pertama, di saat event Job Fair kmarin tidak pernah perusahaan ini mencantumkan persyaratan seorang supervisor itu harus punya pengalaman sebelumnya. Siapa yang harus dipersalahkan kalau seperti itu?? Kedua, supervisor kan berada di bawah manager, ya bisa saja saya belajar dengan cepat dari arahan manager tersebut. Di kampus saya sudah sering diajarkan untuk berinteraksi dengan masyarakat dan juga untuk jadi pemimpin, jadi bapak-bapak nggak usah khawatir."
HRD-3 : "Masalah yg di JobFair itu mungkin loosist kami. Begini saja, untuk menjadi seorang supervisor kan kami harus melihat kedisiplinan, etos kerja, loyalitas, dan intelegensi dari mas faqih, jadi bagaimana kalau misalnya kami tawarkan posisi lain dulu sebelum memutuskan mas faqih bisa jadi supervisor atau tidak?"
Aku : "Posisi apa itu pak?"
HRD-3 : "ada yang namanya server atau whiteress/whiteboy. Gimana?"
Aku : "Hehe.. Itu mah saya tahu isitilahnya karyawan pak. Kalau jadi itu saya nggak perlu sekolah tinggi-tinggi dapat gelar S1, pake ijazah SMK aja bisa.. Saya nggak bisa pak"
HRD-3 : "Iya memang seperti itu mas. Kan tidak ada yang instan. Kita lihat setahun-dua tahun ke depan mungkin karir anda bisa menanjak"
Aku : "Saya kan melamar untuk posisi manajerial pak, kenapa ditawarkan posisi yang fungsional seperti itu? Kalau misalnya saya tidak masuk kualifikasi lantas kenapa saya diundang kesini?"
HRD-1 : "Sayang skali mas, sementara ini tidak ada posisi lain yang lowong. jadi kalau tidak mau dengan tawaran kami, ya silahkan untuk meninggalkan ruangan"
Aku : *tetap bergeming*
HRD-1 : "gimana mas faqih?"
Aku : "Yah, dipikirkan lagi lah pak. Masa tidak ada posisi yang lowong"
HRD-1 : (Mulai Nggak Tenang) Gini aja wes mas, seminggu atau dua minggu lagi kami hubungi kalau ada posisi yang lowong. gimana?"
Aku : (dalam hati berkata Ah, Alibi!!) Ya, sudahhlah Pak. Saya pamit. Assalamualaikum.
Aku berlalu pergi setelah bersalaman pada ketiga orang HRD itu, pandangan peserta lain yang antri tak pernah lepas dariku hingga aku menghilang di balik pagar kantor itu.
Dan.. Benar sesuai dugaanku, setelah 2 bulan tidak ada panggilan. Mungkin 3 HRD itu menyesal atau mungkin juga sudah dipecat, atau bisa jadi mereka sudah meninggal. Wallahu 'alam.. ^_^