Salam Pembuka

Kehidupan adalah hal yang tidak dapat diprediksikan, tetapi kualitas hidup sangat butuh untuk direncanakan..
Hasil baik yang dicapai hari ini merupakan buah dari rencana matang yang ditentukan hari kemarin..
Maka berbuatlah baiklah untuk hari ini, sembari memikirkan suatu yang lebih baik untuk hari esok..

Sabtu, 21 Desember 2013

Ibukota Itu Besar, Namun Angkuh (Cerita Perjalanan Jadi Narasumber Seminar di Jakarta) Chapter 1



Aku memang masih pengangguran, menunggu pengumuman kelulusan tes pekerjaan. Bukan berarti aku ingin menikmati waktu lowong dengan bersantai-santai dan mencari kesenangan sesaat. Aku sadar bahwa usiaku masih muda. Usia yang sedang pada taraf yang sangat produktif. Aku ingin memanfaatkan hidup yang hanya sekali ini untuk menjadi kesan mendalam untuk disimpan dalam album kehidupan. Bisa jadi karena terpacu dengan spirit itu, aku mengajukan sering membuka website mencari sayembara atau perlombaan yang sesuai dengan minatku. Aku kebetulan sangat konsen terhadap kegemaran menulis dan membaca. Apa pun aku baca, bila berkesan maka aku akan menuliskannya sesuai versiku. Pada situs Kementerian Pekerjaan Umum kebetulan sedang ada call for paper buat pembicara di seminar memperingati Hari Habitat Dunia 2013. Aku membaca dengan seksama. Aku pikir ini momentum yang bagus untuk menambah wawasan, sekaligus sebagai investasi jangka panjang. Soalnya aku sebelumnya ikut tes CPNS di Kementerian PU. Entah mengapa aku menjadi tertarik dengan dunia ke-PU-an. 

Singkat cerita aku mengajukan abstrak sesuai dengan tema yang diminta oleh mereka. Seminggu kemudian hasil seleksi diumumkan, dan aku salah satu nama yang harus berangkat ke langsung ke Jakarta untuk mempresentasikan paper lengkapku. Rasa yang muncul di hatiku saat itu campur aduk, ada rasa senang, ada cemas, dan juga terharu. Senang karena dikasih kesempatan untuk menyampaikan hasil pemikiran di depan forum besar skala nasional. Cemas karena aku baru terhitung dua kali menginjakkan kaki di Jakarta sebelumnya, jadi belum paham seluk beluk ibukota negara itu. Aku pun terharu karena merasa karya kita masih dihargai, dan orang tua ketika kutelepon juga bangga padaku, katanya. Hal yang pertama kali ku lakukan adalah menyusun file presentasi dengan sebaik-baiknya, kemudian baru aku hubungi sahabat-sahabat yang tinggal disana. Setelah fix semua, aku pun segera memesan tiket kereta api, moda transportasi favoritku. Aku dapat tiket Kereta Ekonomi Majapahit dengan harga Rp 145.000,- (ini pastinya sudah sangat mahal, karena harga BBM udah naik). Kalau saja aku memesan tiket 10 hari sebelum berangkat pasti bisa dapat Kereta Matarmaja jurusan Malang – Pasarsenen, harganya hanya Rp 65.000,-. 
Jadwal keberangkatan Kereta Majapahit jam 13.45 wib, dua hari sebelum pelaksanaan seminar di Jakarta. Aku duduk berdampingan dengan seorang yang sudah sepuh di kursi yang untuk dua orang. Kursi kami berhadapan dengan pasangan yang sedang kasmaran. Cowoknya berpenampilan biasa, sedangkan pakaian si cewek sangat seksi seperti memakai baju dan celana adiknya (sungguh press body). Bayangkan saja sepanjang perjalanan cewek itu tidak tidur, kerjaannya hanya ngemil, memanjakan pacarnya, ngemil lagi, buang air kecil, begitu seterusnya. Perjalanan dari Malang sampai Pasarsenen kurang lebih memakan waktu 16 jam. Cewek itu baru tidur saat masuk jam ke-13, padahal cowoknya sudah tidur dari stasiun pemberhentian ketiga. Entah si cewek ini kena insomnia, phobia dingin, atau malah malu mau tidur karena takut ngoroknya ketahuan. Ketika aku sedang melihat ke arahnya, dia selalu memasang senyuman terbaiknya. Saat wajahku berpaling, dia sering curi-curi pandang. Atau aku yang sedang ke-pede-an? Entahlah! 

Kereta sampai di Pasarsenen tepat pukul delapan pagi. Hingga jam menunjukkan pukul setengah sepuluh temanku belum datang. Kuhubungi dia via Handphone. Dia akan segera menemuiku. Prediksi awalku dia akan sampai dalam waktu 30 menit. Ternyata setelah satu setengah jam menunggu baru tampak batang hidungnya. “maaf bung, Jakarta macet, apalagi aku naik kopaja, jangan harap bisa memprediksikan kondisi jalan raya disini”. Jakarta selalu begitu, pikiranku tentang Jakarta mungkin lebih banyak buruknya dari pada baiknya. Gedung-gedung menjulang tinggi mengurangi daerah resapan air, gedung-gedung itu berada di tengah-tengah jutaan rumah kumuh. Kejahatan seperti perampokan, pembunuhan, penodongan senjata sudah tidak asing lagi. Pejabat-pejabat korup menghalalkan segala cara politis untuk meraup keuntungan. Jalan raya semua penuh sesak dengan kendaraan beserta racun yang dihembuskannya setiap waktu. Sangat jarang orang yang kuajak bicara –entah aku menanyakan arah jalan atau menanyakan harga makanan—yang menanggapiku dengan ramah. 

Kami berdua harus berjalan kaki lagi sekitar satu kilometer untuk sampai pada halte busway terdekat dari Pasarsenen. Tentu saja aku yang mengajukan ide itu, tidak ingin berkutat dengan kemacetan karena naik kopaja. Halte busway yang akhirnya kami temui masih dalam kondisi baik, tidak seperti yang sering terlihat di berita. Para jurnalis ibukota kerap mempublikasikan kondisi sarana dan prasarana busway yang sudah tidak layak pakai, baik itu karena umurnya maupun karena ulah para pelaku vandalisme. Tiket untuk kami berdua harus ditukar dengan uang Rp 7000,-. Tentu saja kami belum punya kartu elektrik khusus penumpang busway. Setiap calon penumpang yang telah memiliki kartu itu tidak perlu berkeluh kesah dengan panjangnya antrian di loket pembelian tiket. Mereka hanya tinggal menggesekkan kartu itu di portal, kemudian bebas melenggang masuk. Lumayan, menghemat waktu. Saat kami masuk dan menyerahkan tiket pada petugas portal, temanku menanyakan jalur terdekat menuju Ragunan. Ya, itu daerah tempat kebun binatang yang sering muncul di layar televisi. Tapi bukan berarti temanku ini tinggal di dalam kebun binatang. Petugas portal memberi informasi dengan wajah membosankan. Penyakit ketidak-ramahan telah menjalar rupanya. Antrian penumpang yang sejalur dengan kami cukup panjang juga, semua berdesakan seperti sedang menanti pembagian sembako gratis. Aku sampai tidak bisa berdiri di sebelah temanku, kami terpisah oleh beberapa orang yang militan dalam menerobos barisan. Aku berada di barisan kedua paling depan, tepat di depanku berdiri seorang wanita yang hampir kukira seorang artis ibukota. Wajah, parfum, postur tubuh, dan pakaiannya setidaknya menggambarkan itu semua. Wanita ini jika boleh diprediksi usianya hanya lebih tua tiga tahun dariku. Rok mini yang ketat memaksa bokongnya mempertegas kesan seksinya. Belum lagi jika harus menatap bagian depan tubuhnya, ada kesan jika bagian atas dadanya sengaja dibuka untuk umum. Apa ini pakaian yang pantas untuk wanita penumpang busway? Apakah ini tontonan yang layak untuk ibukota yang ramai dengan kasus perkosaan dan pelecehan seksual? Bagaimana kaum adam tidak terpacu dan terlecut nafsunya jika harus menatap sketsa seperti ini? 

Belum lagi pikiran dalam otakku selesai bergulat, wanita itu sekonyong-konyong menundukkan badannya ke depan untuk mengambil buku catatan kecilnya yang jatuh ke lantai halte. Ini sebuah serangan yang sungguh tak terduga untuk iman seorang lelaki yang masih labil dalam diriku. Apa yang dipikirkan oleh wanita ini dengan menodongkan bokongnya ke arahku? Kenapa bisa mereka secuek itu dengan skenario yang bisa memancing pikiran bejat? Aku berusaha menyondongkan bokongku sendiri ke belakang, tak peduli seberapa kerasnya antrian di belakangku terus mendesak badanku ke depan. Aku mencoba mencari wajah temanku. Anehnya dia sedang memasang senyuman paling keren di sebelah sana sambil mengedipkan satu matanya. Sial. Seakan-akan ini bagian ucapan selamat datang darinya untuk pendatang baru di Ibukota.

Kondisi di dalam busway lebih parah lagi, walaupun kini temanku berada tepat di sampingku, tetapi desakan malah bertambah rumit. Jika saja tidak ada AC dalam ruangan bus yang padat ini maka kami bisa saja saling membunuh untuk memperebutkan oksigen. Aku sengaja mengambil posisi berdiri yang agak jauh dari wanita bahenol tadi, lama-lama bisa runtuh imanku. Dia masih sempat memberikan senyum penuh artinya saat mata kami tadi beradu pandang. Penumpang busway yang sedemikian padat membawa ingatanku pada moda angkutan yang sama di Jogjakarta. Aku pernah berkunjung ke sana, berpetualang mengunjungi berbagai macam objek wisata menarik. Aku tidak pernah mendapati penumpang yang naik di TransJogja serumit dan sepadat disini. Apa jumlah penduduk yang menjadi pembeda? Ataukah jumlah armada busway disini yang tidak memadai? Mungkinkah jumlah peminat busway di Jogja masih rendah dibandingkan dengan Jakarta? Aku terus saja mendiskusikan ini dengan temanku diatas busway yang sedang melaju. Sesekali dia memotong pembicaraanku agar bisa menunjukkan betapa megahnya arsitektur Monumen Nasional dan Masjid Besar Istiqlal, betapa angkuh dan sombongnya bangunan-bangunan pencakar langit seperti Hotel Indonesia, Hotel Marriot, dan gedung-gedung kementerian yang berjajar menantang leher manusia untuk mendongak sesaat. Betapa luar biasanya karya-karya tangan manusia itu jika dilihat dari kacamata kami sebagai orang yang belum memiliki jabatan -dan tentu saja uang- untuk sekedar bermimpi membangun rumah sendiri bagi anak-istri kelak. Betapa besarnya mimpi yang harus diukir oleh jutaan rakyat miskin yang tinggal di gubuk-gubuk kumuh di sempadan rel kereta, sempadan sungai, di kolong jembatan, untuk bisa mencapai semua itu. Kadang mereka takut untuk sekedar bermimpi! 

Kami sampai pada halte bus terakhir di daerah Ragunan setelah menempuh dua jam perjalanan. Sungguh melelahkan, terlebih bagiku tentunya. Setelah menempuh 16 jam perjalanan dari Kota Malang, kaki dan pinggangku harus diuji lagi dengan kendaraan yang bernama busway. Aku bertekad sesampai di kontrakan temanku ini aku akan segera merebahkan diri untuk sekedar memenuhi hak sel-sel badanku mendapatkan waktu istirahat. Jadwal seminarku baru berlangsung keesokan harinya. Ada waktu sekitar 14 jam sebelum acara itu dimulai. Aku masih menyempatkan diri untuk menyapa dan berkenalan dengan teman dari temanku yang juga tinggal bersama dalam satu rumah. Mereka semua (termasuk temanku) bekerja di sebuah perusahaan swasta di bidang perminyakan. Kantor mereka berada dekat dengan kontrakan. Mereka bisa sangat menghemat tenaga dan waktu, pikirku. Setidaknya setelah aku mengalami perjalanan yang melelahkan di atas busway tadi. Satu jam setelah mengobrol dengan mereka, akhirnya aku bisa dengan tenang merebahkan diri di kasur.

Setiap pagi pukul 08.00 wib ketiga orang penghuni kontrakan harus sudah berangkat ke kantor untuk bekerja. Aku yang merasa tidak enak untuk tetap tinggal sendiri di kontrakan harus berangkat lebih awal ke lokasi seminar. Kegiatan seminar akan dimulai pukul 10.00 wib. Ini berarti aku tidak harus terburu-buru dan berjibaku dengan kepadatan lalu lintas untuk segera sampai ke lokasi. Aku dilepas oleh temanku untuk berangkat sendiri dari halte busway Ragunan. Dia mengantar sambil berjalan kaki ke halte. Asumsinya waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke kawasan Senayan tidak lebih dari satu jam jika tidak mengalami kemacetan. Apa yang dimaksud dengan kemacetan? Bukankah busway memiliki jalur tersendiri dan bebas hambatan? Aku penasaran dengan apa yang diucapkannya. “Kamu lihat saja sendiri nanti saat pulang dari acara seminar” katanya dengan nada pasti. Aku disuruh olehnya memperhatikan baik-baik arah yang dituju oleh busway. Penting untuk tidak ketiduran diatas busway jika tidak ingin halte tujuan tidak terlewati, katanya mengakhiri percakapan.

Entah sudah berapa banyak halte bus yang aku lewati. Setiap bus berhenti, aku selalu memperhatikan nama dan kondisi haltenya. Setelah memperhatikan semua nama-nama halte itu, aku sekedar menyimpulkan sebagai hipotesis awal, bahwa nama berbagai halte busway diambil dari nama lokasi dimana halte ditempatkan. Halte Ragunan, Dinkes, Monas, Thamrin, Bundaran HI, semua bermain di jalur otak bawah sadarku. Aku yakin setelah beberapa kali lagi aku menumpangi bus ini dalam arah tujuan yang sama, aku akan menghafal nama-nama itu di luar kepala. Perjalananku pagi ini sungguh berbeda dengan apa yang aku alami ketika kemarin pertama kali menjajal busway. Cuaca cerah pagi hari makin nyaman dengan penumpang busway yang –dapat dikatakan- ramai lancar. Aku bahkan bisa duduk di bangku penumpang dengan leluasa. Aku terus memperhatikan jalur busway yang ditempel di pada dinding bus. Tinggal beberapa halte lagi aku akan sampai di halte senayan city. Aku dulu pernah ke daerah senayan, masuk ke GBK dengan teriakan puluhan ribu supporter Indonesia kala bertanding di ajang AFF Cup. Lain dulu lain sekarang. Jika dulu aku berangkat dengan sepeda motor bersama teman-teman, kini pengalaman baru itu bernama busway.

BERSAMBUNG.... Chapter 2