Jumat, 29 April 2011

SISI LAIN DARI AIR


Tidak terbayangkan betapa luar biasanya fungsi dan makna keberadaan unsur air di muka bumi ini. Air selalu dibutuhkan oleh makhluk hidup untuk hampir sebagian besar aktivitasnya untuk tetap bertahan hidup. Pernahkah kita berpikir tentang hakikat yang lebih dalam dari air itu sendiri. Telah banyak penelitian yang mengkaji senyawa unik ini. Senyawa air merupakan gabungan antara dua unsur yang saling bertolak belakang, yaitu Hidrogen (H2) dan Oksigen (O2). Kenapa disebut sebagai dua unsur yang berlawanan? Sebab ketika partikel dari dua unsur ini bergabung akan menghasilkan ledakan yang sangat besar dan kuat ratusan kali bila dibandingkan dengan ledakan bom di Hiroshima-Nagasaki sesaat sebelum negara kita merdeka. Jadi tak heran jika seorang Agus Mustofa memaparkan dalam salah satu bukunya ‘Ternyata Adam Dilahirkan’, bahwa air merupakan senyawa ciptaan Allah yang tidak diciptakan di bumi, melainkan kiriman dari langit. “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran, lalu Kami jadikan air itu menetap di Bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya” (QS. Mu’minun:18). Ayat memperkuat teori letusan yang terjadi jika Hidrogen dan Oksigen bergabung. Seandainya keduanya diciptakan di daratan bumi, maka bisa ditebak bumi akan menjadi seperti apa.

Bila ingin memaknai hakikat air lebih dalam lagi, telah ditemukan dan menjadi penemuan ilmiah yang sangat membantu bahwa unsur utama penyusun tubuh manusia adalah air yaitu sejumlah 70%. Cairan ini terbagi secara merata dalam semua organ-organ tubuh, dimana setiap organ tubuh tersusun dari sistem jaringan, dan setiap jaringan disusun oleh jutaan sel-sel. Jadi dapat dikatakan bahwa air adalah senyawa utama yang dibutuhkan oleh setiap satu sel untuk menjalankan perannya dalam tubuh sebagai agen terkecil penentu segala kondisi maupun sifat turunan dari manusia (genetik). Satu sel saja yang mengalami kekurangan air, akan membawa kerusakan dan malfunsi dari sel itu, pada akhirnya keseimbangan badan terganggu. Inilah yang menyebabkan manusia mengalami fase sakit.
Air diciptakan tidak hanya sebagai penyusun utama tubuh manusia. Bumi pun yang merupakan makhlukNya diberikan jumlah air yang jauh lebih besar dari jumlah luasan daratan. Kenyataan itu yang membuat setiap makhluk tidak akan kekurangan air. Makhluk yang tubuhnya tersusun dari air tak akan mampu hidup tanpa air. Penciptaan gaya gravitasi pun berfungsi untuk menahan setaip materi yang ada di bumi tetap pada tempatnya, termasuk air. Bisa dibayangkan jika tidak berlaku hukum gravitasi pada seluruh air yang ada di alam, maka air yang ‘melekat’ pada bumi akan tumpah dan berterbangan. Sunatullah telah membentuknya untuk taat terhadap perintahNya “Tetaplah di Bumi!!”.Kenyaatan ini masih ditambah lagi dengan adanya mekanisme hidrologis berupa proses terjadinya hujan. Setiap hari air sisa penggunaan dari manusia akan dialirkan melalui sungai. Pada akhirnya air-air limbah itu akan bersatu di laut. Allah menciptakan mekanisme naiknya air laut akibat panas matahari, salah satu esensinya adalah Dia memberikan kesempatan bagi air limbah tersebut untuk membersihkan diri. Dan setelah tahap pembersihan telah selesai, air akan diturunkan kembali berupa hujan. Lantas dengan hujan itu Dia menyirami setiap bagian di bumi agar tumbuh segala apa pun yang dibutuhkan manusia. “Ia telah jadikan langit dengan tidak bertiang yang kamu bisa melihatnya., dan Ia adakan di bumi gunung-gunung supaya Bumi tidak menggoncang kamu, dan Ia tebarkan padanya tiap-tiap binatang merayap, dan Kami turunkan air dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya tiap-tiap jenis yang baik” (QS. Luqman:10). Tapi kenapa manusia masih lupa untuk bersyukur??  Para saintis modern juga telah menemukan fakta mencengangkan yang bisa membuka khazanah pengetahuan manusia tentang KebesaranNya. Air ternyata merupakan senyawa hidup yang bisa merespon tindakan dari manusia. Pengamatan melalui alat pembesar canggih membuktikan bahwa terjadi pergerakan pada partikel air ketika diberikan perlakuan oleh manusia. Jika manusia memberikan perlakuan positif maka bentuk partikel akan selalu beraturan, sedangkan perlakuan buruk akan berlaku sebaliknya. Fakta ini yang kemudian dapat memunculkan kesimpulan yang meyakinkan bahwa dengan selalu menjaga pikiran dan perasaan kita untuk tetap positif, maka akan membawa kita pada ketenangan hidup. Apa sebabnya? Karena sebagian besar tubuh kita tersusun dari air!!!.Kita coba menerjemahkan lebih jauh seputar esensi air. Pada kesehariannya air memiliki sifat yang dinamakan anomali dan kapilaritas. Anomali adalah keanehan yang selalu diperlihatkan dan dilakoni oleh air, sedangkan kapilaritas biasa diartikan sebagai daya resap air untuk melalui celah-celah kecil. Beberapa contoh dari anomali yang diperlihatkan oleh air; air mengalir dari tinggi ke rendah, air yang dipanaskan akan menguap, dan air yang didinginkan akan membeku. Ini artinya apa? Telah disinggung sebelumnya bahwa manusia diciptakan sebagian besar dari air, dan setiap manusia pun harus mengambil ibrah (pelajaran) dari apa yang menyusunnya, karena itulah Dia menganugerahi akal bagi Bani Adam. Sunatullah yang memberlakukan air untuk mengalir dari tinggi ke rendah merupakan suatu pembelajaran bagi manusia untuk selalu rendah hati. Ketika posisi manusia sedang di atas (tinggi), maka tetaplah melihat ke bawah, karena suatu saat posisi bawah (rendah) akan menghampiri juga. Maka pribahasa mengatakan Kehidupan itu bagaikan roda yang berputar. Kemudian air dipanaskan akan membentuk uap yang memiliki masa jenis dan kerapatan yang lebih rendah dibandingkan dengan bentuk aslinya (air). Jika diibaratkan dengan manusia yang diprovokasi, maka darahnya akan mendidih dan emosinya cenderung labil. Makin tinggi kerapatan dirinya maka semakin mampu dia dalam mengendalikan dirinya untuk tidak marah (jika pada air marah diibaratkan terbang dan menguap). Sedangkan perumpamaan sebaliknya jika air didinginkan akan membeku adalah jika manusia dinasehati dengan cara baik dan menyentuh maka dia akan berpikir dan bertindak lebih ‘dingin’ dalam hidupnya.

Konsep kapilaritas dicontohkan dengan daya serap yang dimiliki oleh sumbu kompor dan juga daya serap yang dimiliki daun-daun tumbuhan. Minyak tanah yang biasanya digunakan dalam mengisi tabung kompor dapat meresap dari ujung satu ke ujung yang lain, hingga memungkinkan sumbu kompor membakar hanya ujung paling atas tanpa merusak bagian bawahnya. Akhirnya muncul pertanyaan “kenapa air ini dapat terserap ke atas? Bukankah ia melawan medan gravitasi? Apakah ini tidak melawan sunatullah?” Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membawa kita pada kesimpulan bahwa ajaran agama tidak bisa dipisahkan dari ilmu. Allah sendiri yang selalu menantang umatNya berpikir keras tentang betapa Maha Sempurna cipataanNya. Jika kita belajar sejarah, dahulu manusia mengira Bumi ini berbentuk piring sehingga mereka selalu takut berlayar, mereka tidak mau sampai di ujung Bumi dan jatuh disana. Kembali ke masalah sumbu kompor. Begitu juga pelajaran yang dapat diambil. Dahulu manusia menganggap tidak akan mampu mengudara tegak lurus terhadap Bumi, tetapi ternyata setelah perkembangan tekhnologi diketahui bahwa hukum gravitasi bisa dilawan untuk sampai pada lapangan luas bernama luar angkasa. Allah pun ‘mengizinkan’ manusia menyentuh luar angkasa dengan tujuan agar manusia menyadari luasnya dunia yang diciptakanNya. Jika yang diciptakan seluas dan sebesar itu maka sudah pasti penciptanya Maha Luas dan Maha Besar. Subhanallah!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan meninggalkan komentar anda..
Pasti sangat membangun untuk perbaikan blog ini..

Pemuda, Pembangunan, dan Kemerdekaan

Potensi Pemuda Sang Proklamator, Soekarno, begitu menekankan pentingnya peran pemuda. Ungkapannya yang biasa diulang oleh kita sekarang “ ...