Selasa, 17 Agustus 2021

Pemuda, Pembangunan, dan Kemerdekaan




Potensi Pemuda

Sang Proklamator, Soekarno, begitu menekankan pentingnya peran pemuda. Ungkapannya yang biasa diulang oleh kita sekarang “Beri aku 1000 orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Pemuda seperti kita punya peran yang sangat strategis untuk negara. Beberapa tahun ke depan, Indonesia akan mengalami bonus demografi, dimana jumlah pemuda akan mendominasi keseluruhan penduduk Indonesia. Pada tahun 2018 aja ada sekitar 63,82 juta orang, itu semua adalah pemuda. Pemuda dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 artinya warga negara yang berada di rentang usia 16-30 tahun. Nah, saat ini saja pemuda sudah berjumlah seperempat dari jumlah penduduk Indonesia. Pada puncaknya nanti, periode tahun 2025-2030, diprediksi jumlah pemuda sudah melebihi setengah dari jumlah total penduduk negara ini. Artinya apa bagi pemerintah? Jika Pemerintah berhasil membangun pemuda, maka secara otomatis akan melejitkan pembangunan negara. Seakan menyadari potensi itu, pemerintah akhirnya getol untuk memacu sebuah indikator yang dikenal Indeks Pembangunan Pemuda. Dimensi Indeks Pembangunan Pemuda itu apa saja sih? Dimensi besarnya terdiri dari 3 lapisan; 1) Pendidikan dan Kesehatan, 2) Lapangan dan Kesempatan Kerja, dan 3) Partisipasi. Kita bisa sekedar berkenalan atau bahkan melihat secara lengkap laporan perkembangannya setiap periode di situs Bappenas Kementerian PPN.

 

Pendidikan dan Kesehatan

Lapisan pertama adalah indikator paling dasar, yaitu pendidikan dan kesehatan. Kualitas pendidikan dan di sebuah daerah sebisa mungkin dapat diakses oleh pemuda tanpa terkecuali. Kesulitan biaya seharusnya tidak boleh menjadi domain para pemuda. Tugas mereka hanya untuk fokus mengenyam pendidikan dengan jiwa dan pikiran yang sehat. Pikiran dan jiwa yang sehat tentu di-backup oleh kepastian jaminan kesehatan dan fasilitas kesehatan yang memadai. Di zaman yang katanya serba modern ini, kita masih sering mendengar para pemuda yang “menyerah” pada kenyataan biaya pendidikan yang mahal. Tidak sedikit pula yang meregang nyawa di ujung “pedang” bernama syarat dan biaya jaminan kesehatan yang tidak tergapai. Semua muncul sebagai momok yang menakutkan bagi para pemuda. Momok itu seiring waktu berubah menjadi “hal lumrah yang menyedihkan” bagi keluarga mereka secara turun-temurun. 


Lapangan dan Kesempatan Kerja

Setelah menamatkan pendidikan, tentu para pemuda butuh akses terhadap lapangan kerja dong!? Dan kesempatan kerja butuh mereka dapatkan sebagai outcome yang mereka hasilkan dari proses pendidikan. Lapisan kedua ini memang termasuk yang paling sulit dipenuhi menurut laporan IPP Tahun 2019. Iklim investasi yang berbeda tiap daerah membuat wadah untuk bekerja memang terbatas. Oleh karena itu, penting kiranya pemerintah untuk terus menanamkan jiwa berwirausaha bagi para pemuda. Hal ini sangat krusial, agar para pemuda tidak hanya menunggu peluang kerja secara formal, tetapi lebih dari itu mereka lebih bersemangat dalam menciptakan lapangan kerja baru. Pemerintah harus berinvestasi besar-besaran terhadap perkembangan pola pokir pemuda di lapisan ini. Perubahan paradigma pemuda harus diyakini sebagai tonggak awal dalam mencapai kemandirian ekonomi secara nasional.

 

Partisipasi Sosial

Nah ini lapisan terakhir. Lapisan partisipasi bagi para pemuda merupakan tanda mereka sedang hidup di lingkungan yang berdemokrasi. Para pemuda butuh dilibatkan secara aktif dalam berbagai proses pembangunan daerah, tidak memandang pria maupun wanita. Itu artinya bahwa tidak boleh ada perbedaan gender atau diskriminasi. Semua punya kapasitas dan kapabilitas sesuai dengan background pendidikan maupun berdasarkan pengalamannya sehari-hari. Intinya semua pemuda memiliki potensi yang perlu diwadahi. Semua punya hak dalam menyampaikan pendapat, tentunya dalam bingkai etika dan mendukung kemajuan tentunya. Partisipasi yang tidak terwadahi akan tersalurkan di jalan yang tidak benar. Sehingga muncul berbagai perilaku melawan hukum yang merugikan diri sendiri dan merugikan negara.

 

Sekarang jika kita para pemuda sudah melihat potensi kita dan juga perhatian yang diberikan oleh pemerintah, lalu apa yang akan kita lakukan untuk mendukung itu semua? Tentu saja kita bisa sangat membantu pemerintah. Kita bisa merubah wajah negara ini menjadi lebih baik lagi, dengan antusiasme dan tidak skeptis terhadap kemajuan. Sikap positif sebagai seorang pemuda sangat luas sekali lingkupnya. Taat membayar pajak misalnya, karena kita tahu pajak akan digunakan kembali untuk fasilitas-fasilitas pendidikan dan kesehatan yang paling mendasar. Belajar dengan rajin, karena kita tahu tingkat pendidikan akan berbanding lurus dengan berkurangnya tingkat kemiskinan. Berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan pemuda di daerah, karena kita tahu suara pemuda akan didengarkan dan menjadi muatan positif bagi pengambil kebijakan di pemerintahan.

 

Intinya kita yakin bahwa pemuda adalah agen-agen perubahan yang sebenarnya. Terus yakinkan dan pantaskan diri untuk itu. Mulai dari diri sendiri. Mulai dari sekarang. Mulai dari hal yang terkecil. Temukan perubahan di masa yang akan datang yang lebih cerah. Kata orang bijak, “Jangan tanyakan apa yang sudah negara berikan kepada kita tapi tanyakan apa yang sudah kita berikan untuk negara. Cepat pulih negeriku. Di tangan pemuda bersiaplah untuk maju. Dirgahayu Republik Indonesia tercinta. Merdeka!

Rabu, 17 Maret 2021

Pi Day, Perayaan Lahirnya Konstanta Matematika Paling Fenomenal

Konstanta Pi mungkin sudah tidak asing lagi bagi teman-teman semua, karena sudah diajarkan di bangku sekolah dulu. Dan sejarah penemuannya termasuk yang paling tua dalam catatan dunia. Penemuan konstanta ini akhirnya membawa kemajuan bagi dunia pengetahuan yang luar biasa. Bagaimana sebenarnya fakta-fakta unik dibalik perayaan hari Pi atau yang disebut Pi Day? Dan apa saja yang dilakukan warga dunia dalam merayakannya? Tonton video ini sampai habis, dan dapatkan seberkas pengetahuan yang mungkin belum kalian tahu. #ketikatacreative #NationalPiDay #14Maret #FaktaDunia

Sabtu, 25 Februari 2017

SERUAN INDAH YANG MAKIN JARANG DIINDAHKAN

Hidup sebenarnya sebuah kumpulan peraturan sekaligus tata cara dalam menjalankan aturan-aturan tersebut. Lalu bagaimana jika semakin maju zaman namun semakin banyak aturan yang dilanggar? Bagaimana jika kemajuan zaman malah semakin menciptakan cara untuk mengelabui para pembuat aturan? Saya menilai, cara-cara ini sebagai degradasi. Manusia semakin tidak patuh terhadap aturan, berani menantang aturan, malah terkesan sangat merendahkan peraturan itu sendiri. Beberapa aturan kecil yang saya perhatikan, ternyata menjadi “makanan empuk” bagi para pelanggar. Semua terangkum dalam “The Last Magic Words” versi Abdul Basel Coorporation di bawah ini.. Heuheu
1. Dilarang Buang Sampah Disini
Kalimat ini terpilih menjadi urutan pertama, karena dampak yang timbul akibat disepelekannya kalimat tersebut sangat besar. Kata orang-orang sih sampah bisa menjadi momok karena menyebabkan banjir. Saya katakan itu semua tidak benar! Itu fitnah. Sampah itu tidak pernah menjadi bahaya jika dibuang serta ditempatkan di lokasi yang benar. Jadi yang menjadi momok bagi kita adalah oknum-oknum masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Himbauan “jangan membuang sampah disini” malah menjadi tempat favorit untuk membuang sampah. Ini baru yang namanya fakta. Kasian sekali sampah selalu menjadi kambing-hitam. Manusia yang melakukan, mereka yang harus kena tuduhan. Ternyata “sampah masyarakat” lebih berbahaya dari pada sampah perumahan.

GERAKAN “SEMINGGU TANPA MALAM MINGGU”





Tiga kata yang menarik untuk dicermati saat ini : Cinta, Pemuda, dan Malam Minggu-nya. Layaknya trisula maut dalam klub sepakbola dunia yang terus saling menguatkan sektor penyerangan. Bagai ular berkepala tiga yang akan menjemput ajalnya jika salah satu kepala dibegal. Seperti tiga mata rantai yang berhamburan tak menentu jika salah satu dari tiga pengaitnya dilepaskan. Seumpama trio warkop DKI yang tidak asyik lagi jika salah satu personilnya telah tiada. Semisal Soekarno-Hatta-Syahrir yang begitu kompak jika bersatu. Begitulah, sekedar gambaran betapa ketiga istilah itu kaitannya sungguh erat.

Cinta. Tidak ada yang salah dengan cinta. Cinta hanya kata paling sering dicari dalam kamus para pujangga. Pemuda pun demikian, tidak ada yang aneh dengan kata itu. Malam minggu juga hanya sebuah frase yang terbentuk sebagai istilah lain dari hari sabtu malam. Menariknya adalah saat ketiganya dijejerkan dalam sebuah fenomena kekinian, dalam renungan dalam tentang pergaulan; ketiganya menjadi asyik untuk dijadikan bahan pembelajaran. “Cinta” selalu terkait dengan kejiwaan (psikologi), “Pemuda” akan dinilai dari fisik, sedangkan “Malam Minggu” (entah kenapa saya rasakan) erat kaitannya dengan spiritualitas.

Kenapa frase Malam Minggu, yang bagi sebagian besar pemuda bermakna spesial, namun bisa bermakna spiritual? Pertanyaan itulah yang menjadi titik tumpu (alasan) adanya tulisan ini. Saya tergerak untuk menulis tentang topik ini, bukan berarti saya haters dari hari sabtu malam tersebut, bukan pula berarti saya tidak pernah ‘nongkrong’ menikmati desiran pantai serta menikmati bagaimana gegap gempitanya dunia di malam minggu. Justru karena pernah merasakan sehingga saya tahu, sehingga memberi waktu bagi nurani untuk merenung. Perlahan bergelayut rasa bosan dari lubuk hati yang biasa terjadi pada manusia dalam menghadapi suatu kesenangan semu.

Sifat Menginginkan Milik Orang Lain, Tanda Perlu Introspeksi! Jangan Jadi Pemuda "SMS"




Pagi tadi tepat pukul 05.30 wita, saya sedang asyik menikmati berbagai buku bacaan di dalam kamar. Suasana rumah tetangga juga masih sangat sepi, hanya suara kodok dan jangkrik yang sahut menyahut menyapa gendang telinga saya. Ini mungkin suasana khas Bulan Ramadhan, warga masih lelap dalam tidurnya selepas bangun makan sahur yang lebih awal dari jadwal bangun biasanya. 

Sedang asyik membaca, saya dikagetkan dengan teriakan ayah dari kamarnya. Suara beliau seperti sedang menghardik seseorang. Benar saja, ayah tidak sempat bertindak lebih jauh, diluar halaman kami yang luas telah dimasuki oleh "tamu tak diundang". Seorang pemuda telah memanjat pagar rumah kami, dan mengambil induk ayam yang tengah asyik bermain dengan anak-anaknya. Sebelum ayah sempat berlari keluar, induk ayam itu sudah ada di pelukan sang pemuda, dia segera keluar dari pagar lalu memacu motor yang diparkir diluar sekencang-kencangnya.

Sejenak saya tertegun mendengar kalimat yang keluar dari mulut ayah. Beliau mengutuk nyali para pemuda yang kerap dipergunakan dalam cara-cara yang salah. Negara ini makin edan, pikirku.

KENAPA PERUBAHAN ITU BEGITU MENYAKITKAN? (Sebuah Renungan Untuk yang Mengaku Kekinian)

“Tuhan, berilah aku kedamaian untuk menerima hal-hal yang tidak dapat aku ubah, keberanian mengubah hal-hal yang bisa aku ubah, dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaan antara keduanya” (Reinhold Niebuhr).

 

Entah sudah berapa banyak kaum bijak yang mengutarakan statement-nya tentang kehidupan yang dinamis, selalu berubah dari waktu ke waktu, bahwa hidup itu bergerak hingga waktu yang tidak bisa ditentukan oleh makhluk hidup sendiri, sebab hidup bukan spekulasi, oleh karena ada Yang Maha Mengatur untuk kita yang berperan sebagai ‘pemain’. Tidak ada yang tidak berubah di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri, begitu kata mereka.

Masalahnya adalah tentu saja mengeksekusi sebuah perubahan tidak semudah mengucapkan kata “perubahan” itu sendiri. Ada sebuah memontum yang tidak mungkin terelakkan, ketakutan atas perubahan yang meminta pengorbanan harta, jiwa, maupun tenaga. Kurang lebih empat belas abad yang lalu, orang yang paling saya kagumi sejarahnya; sosok yang ucapannya selalu menggetarkan relung-relung jiwa yang sedang kering; jiwa fitri yang membawa ajaran yang suci; berusaha menjadi media nyata untuk menyampaikan firman Allah. Ya, Sang Rasul berusaha membawa perubahan dengan usaha maksimal agar sekecil-kecilnya ‘meminta’ pengorbanan dari pihak yang ingin berubah. Tapi anehnya, walau Rasul membawa risalahnya dengan cara damai, tetap saja ada raut ketakutan dari musuh-musuhnya. Mereka takut menghadapi perubahan, mereka anti untuk meninggalkan “sosok” sesembahan mereka yang lebih nyata di depan mata, yang mereka buat sendiri dengan tangan-tangan penuh noda.

BERITA KADANG MENGGALI WAWASAN, TAK JARANG JADI IDE UNTUK KEJAHATAN

Media informasi tidak bisa dipungkiri semakin menjadi garda terdepan dalam menambah wawasan kita di era globalisasi saat ini, baik itu media dalam bentuk cetak maupun elektronik. Pemberitaan di televisi yang menjadi tontonan paling nyata yang dihadirkan di depan mata mampu menyajikan beragam dinamika yang terjadi di seluruh pelosok nusantara. Tapi kenyataan itu makin terasa nyesek bagi saya pribadi -entah Anda sekalian juga merasa yang sama- bahwa semakin banyak muatan berita kriminal yang kronologisnya bahkan diluar logika dan imajinasi kita sekalipun! Seakan dunia ini menjadi ajang lomba kreatif dalam berbuat kejahatan.

Kita bisa saja menyaksikan pemberitaan yang beragam dalam satu waktu, yang bisa membuat kita geleng-geleng kepala keheranan : ada kasus orang tua (ayah) memperkosa anak kandungnya yang masih di bawah umur, ada kasus seorang anak yang gantung diri karena tidak diizinkan bertemu dengan ayah kandungnya, ada pula yang sebuah keluarga yang memilih mati bersama dengan meminum racun serangga karena alasan ekonomi, ada kasus kelompok pria normal yang berebut memperkosa wanita tunawisma, ada kasus seorang anak yang menuntut ibunya yang sudah lanjut usia di pengadilan karena permasalahan lahan, ada pula yang menuntut orang tua lanjut usia lantaran beliau hanya mengambil sayur di lahan si penuntut. Ada lagi kasus begal motor yang merajalela, pencurian sepeda motor secara masif, pembobolan bank versi internet dan sms banking, serta tak lupa pula kasus jual-beli jasa prostitusi online yang mulai meresahkan. Tentu masih banyak lagi kasus lain, yang jari saya akan pegal jika harus mengetikkan semuanya disini!

JUJUR ITU MANJUR (Sekelumit Kalimat Tentang Good Corporate Governance)

Hal yang sangat aneh ketika melihat orang-orang yang tetap bertahan dengan ketidakjujuran untuk memperoleh sesuatu, padahal mereka tahu tentang konsep “rezeki sudah ada bagiannya masing-masing”, selain itu mereka juga mengerti bahwa Rasul mereka, Muhammad SAW, disegani karena kejujurannya bukan kecurangan.

Dunia bisnis memang sadis, tetap mengacu pada paradigma yang dibentuk oleh para kapitalis, bahwa siapa yang paling opportunis dialah yang jualannya laris. Tidak jarang para pebisnis yang takut uangnya habis, seperti kata AA Gym : mereka tidak paham bahwa yang memerintahkan jujur itu Allah sendiri, dan yang memberi rezeki itu juga Allah, lantas kenapa harus tidak jujur?


Suatu malam saya duduk bersama bapak di depan televisi, begitu serius memperhatikan berita yang cukup heboh. Berita itu seputar tiga anggota keluarga yang sepakat untuk bunuh diri dengan meminum racun serangga. Mereka diduga bunuh diri karena himpitan ekonomi dan kegagalan dalam bisnis. Hal itu diketahui dari surat wasiat yang ditinggalkan oleh mereka. Melihat itu bapak saya merasa geram.

Bapak : “Kok mau ya istri dan anaknya yang masih balita juga minum racun serangga itu hanya untuk memenuhi obsesi sang suami yang gagal dalam bisnis? Bisnis tidak akan ada yang gagal, asal jujur dan bekerja keras. Sukses hanya masalah waktu saja. Cobaan dari Allah itu memang paling sering datang dalam dunia bisnis (dagang), kalau mereka bisa lolos dari cobaan itu jaminan sukses deh. Coba lihat orang-orang besar di dunia bisnis, mereka besar hasil dari jatuh bangun yang kadang membuat hampir putus asa. Tapi mereka bangkit lagi, kumpulin modal lagi, tetap berbisnis dengan jujur lagi.

JIKA HANYA MEMBAWA LUKA, PANTASKAH LIDAH TERUS BERKATA?

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR Bukhari Muslim) “Barang siapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) sesuatu yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, kuberikan kepadanya jaminan masuk surga.” (HR. Bukhari)

 

Apa yang ada di benak kita ketika melihat dan mendengar konflik antar kampung? Apa reaksi kita saat mengetahui bahwa sumber pertikaian itu hanya karena masalah sepele? Rasa-rasanya sudah muak melihat orang yang beradu otot di zaman yang sudah mengedepankan pikiran dan teknologi seperti saat ini. Memang banyak faktor yang membuat suatu daerah rawan konflik, antara lain pendidikan, pekerjaan, lingkungan, dan penegasan eksistensi. Tapi amat banyak di luar sana orang-orang yang tidak menyelesaikan jenjang sekolah dasar, tidak memiliki pekerjaan tetap, serta hidup di lingkungan yang kumuh; namun tetap bisa menjadi sumber inspirasi bagi lingkungan sekitarnya. Kenapa kita tidak bisa? Kenapa kita masih mengejar predikat “hebat” dengan memburu dan saling membunuh antar kampung?

ADIL PADA LINGKUNGAN, TANDA KITA BUKAN GENERASI EDAN

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan." (QS Al-An’am : 38)

Suasana pagi di hari minggu sungguh menyenangkan, selain kita punya waktu senggang untuk sejenak merehatkan badan setelah rutinitas pekerjaan yang berat, kita juga bisa sejenak memanjakan hati dan pikiran untuk keluar ke alam bebas. Betapa indah karunia Tuhan saat kita menyadari bahwa udara segar di pagi hari membuat pikiran kita rileks. Kita tidak hidup di Jakarta yang penuh dengan polusi pabrik. Kita tidak hidup di Surabaya yang sesak dengan kendaraan bermotor. Kita tidak hidup di Medan yang padat dengan manusia. Daerah kita belum mencapai titik kemajuan yang sangat kompleks seperti itu, sehingga kita masih diberi kesempatan menikmati udara segar, jalanan yang lengang, manusia yang homogen, budaya yang sama, kebiasaan yang serasi.

Kemudian tiba-tiba saya merasa asing di daerah saya sendiri. Saya di hari libur seringkali duduk menikmati bubur ayam di Pantai Amahami, sorenya saya menikmati indahnya sunset yang turun ke peraduannya. Semua aktivitas di atas permukaan sungguh menenangkan hati. Namun hati ini teriris demi melihat anak-anak kecil yang dengan polosnya bermain air di bibir pantai yang sangat kotor dengan tumpukan sampah makanan. Anak-anak itu tetap ceria meski kaki mereka menginjak ratusan sampah plastik yang tidak bisa terurai!

Sebenarnya, seberapa peduli kita dengan kelestarian lingkungan? Kita belum menjadi kota-kota besar, daerah kita belum semrawut dengan pembangunan yang tak terkendali. Tapi fakta yang terjadi,

Minggu, 02 Oktober 2016

SMART CITY; Alunan keseimbangan antara manusia dan teknologi (Harapan untuk Kota Bima tercinta)



Cermin dari Kota-Kota Besar

"Teknologi bisa membuat orang cerdas, tapi juga bisa membuat orang tetap bodoh. Yang cerdas adalah teknologinya, tapi orangnya tetap bodoh." (Yasraf Amir Piliang, Budayawan)

Saya rasa kita sudah tidak asing dengan frasa "Smart City" sebagai bagian dari ikhtiar pemerintah dalam membentuk kota-kota di Indonesia menjadi lebih baik. Sederhananya, Smart City adalah konsep kota yang ingin memudahkan setiap aktivitas masyarakatnya melalui sinergi dengan teknologi modern. Konsep ini sudah menjadi formula yang banyak diadopsi oleh beberapa kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Makassar dan Malang.

Seperti apakah penerapan-penerapan konsep Smart City di beberapa kota itu? Sebut saja pemasangan jaringan CCTV di berbagai sudut kota, pembayaran tiket dengan kartu, pemantauan petugas kebersihan, berbagai aplikasi ojek dan taxi Online, pengadaan titik-titik hotspot di taman kota, pembayaran pajak Online, E-samsat, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Menurut survei yang dibawahi oleh Komisi I DPR bahwa pengguna jaringan internet di Indonesia sudah tembus di angka 80 juta orang. Dengan kata lain, 80 juta orang ini tidak lagi hanya menggunakan fasilitas SMS dan Call saja, tetapi sudah lihai dalam berkirim pesan Facebook, WhatsApp, WeChat, Line, LinkedIn, Path, dan lain sebagainya. Sebagian lagi tidak hanya membaca koran versi cetak, namun sudah sangat gemar membuka situs koran versi online nya. Ini artinya apa? Animo masyarakat terhadap informasi digital semakin meningkat, sehingga mendukung diterapkan nya konsep Smart City ini, yang sarat akan aroma teknologi.

Senin, 12 September 2016

Ibrahim-Ismail, duet ayah dan anak yang tetap "kekinian"


Kita mungkin sering dengar nama cewek yang tiba-tiba nge-hits di jagad media, Jessica Kumala Wongso? Kita juga mungkin ikut terbawa perasaan saat melihat wajah seorang berkepala hampir gundul yang tersangkut isu dwi-kewarganegara-an, Archandra Tahar? Dan kita rela berkembang-kempis hidung menyaksikan para artis yang membagi kisah hidupnya sehari-sehari bersama anak-anaknya, seringkali kita sebut itu sebagai hiburan?

Berapa lama kisah mereka akan bertahan dalam benak kita? Seminggu? Sebulan? Setahun?
Bagi saya pribadi, channel televisi makin tidak berkenan di hati, kecuali acara sepakbola, MotoGP dan standup comedy..

Momen Hari Raya Idul Adha selalu memberi kesan yang mendalam. Terdapat kebersamaan, persaudaraan, solidaritas, dan tentu saja : senyuman. Bukan hanya karena ramai hewan kurban, tetapi juga karena banyak pelajaran..
Di hari yang suci ini, tidak perlu kita membuka layar televisi mencari hiburan. Inilah sebenarnya yang kita butuhkan sehari-hari; interaksi nyata, bertatap muka, jauh dari bayangan kehidupan artis di ibukota sana, berhenti sejenak mendengar isu-isu politik yang melelahkan, kita menikmati apa yang ada di depan mata, saling berucap syukur penuh makna..

Minggu, 29 Maret 2015

KETIKA KITA TIDAK BER-INDERA, TIADA YANG BENAR-BENAR ADA


Tuhan sudah menciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna, tapi kenapa di dalam kesempurnaan yang telah dijamin itu kita masih saja masih sulit bersyukur? Masih ada pemisahan yang ganteng dari yang buruk rupa, yang anggun dari yang nanggung, yang indah dari yang membuat muntah. Inikah cara kita memaknai jaminan kesempurnaan manusia?!



Perjalanan dunia hanya sementara. Kita manusia diberi akal untuk merenungkan arti penciptaan makhlukNya, termasuk asal mula kita sendiri. Kita sama diciptakan dari setitik air hina (mani) dari tulang sulbi para orang tua kita. Siapa yang tidak diciptakan dari mani? Kalau saja ada, mugkin dia bukan manusia! Kemudian dari sititik mani yang mengandung jutaan sel sperma itulah anak manusia baru dilahirkan ke dunia.

Bayangkan, Tuhan tidak pernah memberi cap (label) cantik dan cakep atau jelek dan buruk pada setiap calon manusia baru yang akan dilahirkan ke dunia. Semua sama, dilahirkan dengan kondisi fitrah (suci). Namun, coba tengok apa yang dilakukan oleh para pendahulunya di dunia? Sejak anak manusia itu keluar dari rahim ibunya, keluarga mereka sendiri yang kemudian sangat ‘pandai’ menilai bayi yang lahir itu. Belum apa-apa mereka sudah di-bully : “ihh.. bayinya cakep ya, persis ayahnya, tapi sayang sekali pesek kayak hidung ibunya”.. “waahh.. alisnya tebal banget kayak hutan amazon, ditambah lagi rambutnya kusut seperti pakaian dalam yang belum disetrika”.. “coba deh lihat, bayi yang lahir itu adalah anak haram, hasil hubungan gelap orang tuanya!”. Masih banyak lagi sentilan-sentilan kecil dari lidah manusia sekitarnya. Kalau saja saat itu bayinya bisa jalan sendiri, mungkin dia lebih memilih masuk kembali ke rahim ibunya! Heuheu..

Saya teringat kalimat bijak dari Kahlil Gibran : “Anak kalian adalah bukan anak kalian. Mereka putra-putri kehidupan yang merindu pada dirinya sendiri. Berikan kepada mereka cinta kalian, tetapi jangan gagasan kalian, karena mereka memiliki gagasannya sendiri. Kalian boleh membuatkan rumah bagi raga mereka, tetapi tidak untuk jiwa mereka, sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tidak bisa kalian kunjungi, sekali pun dalam mimpi”.

Itu artinya apa? Kita tidak layak untuk terpengaruh dengan bentuk fisik dari sesama manusia, termasuk anak kita. Sebab kehidupan ini jauh lebih penting untuk memiliki sebuah gagasan, sebuah visi, sebuah mimpi, yang mampu meneruskan hakikat kehidupan itu sendiri dari pada hanya sebuah wajah yang indah namun tak mencerahkan. Bukankah seseorang lebih baik disegani karena pemikirannya dari pada disegani karena ketampanan atau kecantikannya?

Kembali lagi ke kisah bayi yang lahir tadi. Jika bayi itu jenis kelaminnya laki-laki, ketika dia tumbuh dewasa menjadi pria yang tampan rupawan, maka pasti dia memiliki ‘nilai jual’ yang lebih. Begitu pula jika bayi itu perempuan, ketika dia tumbuh dewasa menjadi gadis cantik, anggun, dan montok, maka pasti dia akan menjadi incaran para kaum adam.

Saya percaya pada sebuah rumus kehidupan, bahwa semua anugerah Tuhan adalah sebuah titipan. Titipan itu tidak hanya dalam bentuk uang, rumah, mobil, motor, sawah, ladang, villa, losmen, hotel; tetapi juga titipan itu juga tersembunyi dalam wajah yang cantik atau tampan, bentuk badan yang indah nan menawan, kesehatan yang tiada terganggu, dan lain sebagainya. Lantas apa yang perlu kita banggakan dengan ‘kelebihan’ yang ada dalam diri kita dan keluarga?

Ketika titipan berupa wajah cantik dan tampan selalu digunakan untuk menarik perhatian lawan jenis, ketika body montok diumbar untuk membangkitkan syahwat, ketika kesehatan digunakan untuk banyak melakukan maksiat; bukankah itu akan membawa kita pada pertanggungjawaban yang berat di akhirat kelak? Bukan saja si anak yang akan mempertanggungjawabkan perilaku a-moral-nya di akhirat, tetapi orang tuanya pun akan terseret sebagai orang yang berhak atas diri dan kehidupan anaknya. 

Lebih ironisnya lagi, ada fakta menarik yang diungkapkan oleh salah satu Revolusionis Islam modern, Harun Yahya : bahwa kehidupan ini tidak lain hanyalah sekumpulan persepsi manusia, tidak ada alam materi seperti yang dituduhkan oleh para kaum pemuja teori materialisme. Menurut beliau, apa yang ada di dunia ini semua adalah hasil kerja kelima indera kita; mata, hidung, telinga, mulut, dan kulit. Mata untuk melihat, hidung untuk membau, telinga untuk mendengar, mulut untuk mengecap rasa, dan kulit sebagai sensor peraba.

Kita ibaratkan saja bahwa saya sedang melihat cewek cantik di sebuah kolam pemandian. Dia sangat cantik dengan balutan baju renang ketat berwarna pink, dan bodi-nya terasa penuh di baju tipis yang dia kenakan. Bokong dan dadanya membuat semua pria yang ada di kolam itu mengeluarkan air liur. Namun, di sudut kolam itu ada seorang pria buta yang sedang duduk menikmati udara. Hanya dia satu-satunya pria yang tidak menoleh ke arah cewek seksi tadi. Kenapa? Karena dia tidak merasakan persepsi yang sama dengan cowok lain di area kolam itu. Dia tidak mengerti arti sebuah keseksian, dia tidak mengerti ukuran kemontokan, dia tidak sempat mendamba wanita yang sempurna, karena dia tahu untuk mendapatkan satu cewek yang mencintai kekurangannya saja pun dia sudah bersyukur sekali!

Begitu pula halnya kenyataan yang harus diterima oleh orang yang memiliki keterbatasan indera yang lain. Ketika kita yang normal sangat asyik menikmati sebuah konser musik,orang yang tuli hanya akan lewat begitu saja di depan lapangan konser itu, terlihat acuh-tak acuh dengan irama yang menggebu-gebu dari sound system musik itu. Dia tidak paham arti keindahan lagu, dia tidak tahu ukuran nikmatnya musik, yang dia sanggup lakukan hanya menitikkan air mata melihat orang-orang yang berjoget dan loncat-loncat dalam keheningan.

Begitulah mengapa kemudian ada istilah yang beken zaman sekarang "Cantik itu relatif, merdu pun relatif". Ya, bagi sesama orang yang matanya normal saja ukuran kecantikan akan berbeda. Satu bilang cantik, yang satunya belum tentu melihat itu sebagai kecantikan. Nah, apalagi ukuran kecantikan menurut orang yang buta? Hmm.. pantas saja hukum Relativitas Einstein sangat laku hingga sekarang. :)

Dunia ini hampa tanpa indera. Dunia ini tiada berarti tanpa indera. Semua yang dilihat bukanlah materi, tetapi hanyalah kumpulan bayang semu yang dibiaskan oleh lensa mata ke dalam retina, yang kemudian diteruskan oleh otak. Ketika retina dan syaraf otak rusak, maka tidak ada lagi wanita cantik dan montok. Bayang itu tidak akan nampak di depan matamu. Semua yang didengar adalah kumpulan persepsi yang diteruskan ke dalam lubang telinga, rumah siput, dan sensor suara di otak. Ketika salah satu mengalami gangguan, maka tidak akan ada lagi nikmatnya desahan gadis nakal atau cabe-cabean di telingamu, tidak ada lagi nikmatnya musik disco yang biasa mengiringi dunia malammu!

Kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian diatas salah satunya adalah, bahwa bersyukur untuk hidup ini sangatlah penting. Bukan keunggulan dari salah satu anggota badan saja yang patut diperhatikan (misalnya cantik, tampan, tinggi, mancung, dll), tetapi yang lebih patut disyukuri adalah kelengkapan semua indera kita. Tidak ada istilah jelek dan buruk, karena itu hanyalah predikat yang muncul karena persepsi sesama manusia. Sebab Tuhan yang menciptakan kita sudah memberikan jaminan kesempurnaan bagi umat manusia. Walau menurut manusia ada yang tidak sempurna, tetapi Tuhan tetap menyempurnakan dalam ketidaksempurnaannya itu sebuah kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang yang menuduhnya tidak sempurna. Wallahua’alam.

“Sebagian kita seperti tinta, dan sebagian lagi seperti kertas. Dan jika bukan karena hitamnya sebagian kita, sebagian kita akan bisu. Dan jika bukan karena putihnya sebagian kita, sebagian kita akan buta”. (Kahlil Gibran).

Jumat, 06 Maret 2015

WANITA ITU INDAH? (All About Love)


Beuhhh.. Kok selalu bahas cinta sih? Bosen!

Loh, jangan salah. Kita diciptakan dengan cinta, dibuat dengan gabungan cinta, dibesarkan dengan cinta, dikubur pun kelak dengan deraian air mata cinta. Jadi apa yang salah dengan ‘darah’ cinta yang mengalir dalam setiap urat nadi kita?

Terus, kenapa judulnya bawa-bawa nama wanita?

Cinta itu ada karena ada dua jenis manusia berbeda. Pria membuat cinta kuat, sedangkan wanita membuat cinta indah. Walaupun kita bisa saja menyebut perasaan kita kepada keluarga; ayah, ibu, kakek, nenek, adik, kakak, juga adalah cinta. Tapi percaya atau tidak, ketika kita beranjak dewasa, naluri untuk mendapatkan pasangan hidup membuat prioritas cinta kita dalam hidup menjadi hancur-lebur. Kita bisa saja mengesampingkan keluarga jika dibenturkan dengan kepentingan pasangan kita. Kita bisa saja bangga dengan titel “durhaka” pada keluarga demi melihat pasangan kita bahagia!

Idealnya kata para ustadz, prioritas cinta kita di dunia ini segalanya harus tetap berada di bawah cinta terhadap Pencipta dan juga orang tua. Ketika prioritas itu dilanggar, maka cinta itu akan berjalan tanpa arah : kepada Sang Pencipta kita membuatNya murka, kepada orang tua kita menanamkan bibit durhaka.

PELAJARAN DARI PERJALANAN KE DESA (Tuhan Masih Sayang Kita)


Saya berkunjung secara kontinyu ke sebuah desa di daerah Kabupaten, saya mendapati beberapa fenomena ‘menarik’ yang ada di dalam kehidupan masyarakatnya. Angka perceraian di usia muda cukup tinggi. Selain itu, yang lebih mencengangkan, disana para pemuda sudah tidak asing lagi dengan yang namanya melakukan hubungan di luar nikah!

Sungguh perut saya geli, serasa digelitik, melihat para pemuda usia sekolahan (sekitar 16-19 tahun) sudah menggendong anak. Satu sisi ada juga rasa empati karena saya menyadari betapa tegar mereka menjalani kehidupan yang sedemikian ‘tidak normal’ berdasarkan sudut pandang norma ketimuran. Ukuran badan mereka masih terlalu rapuh, masih sangat kecil untuk merasakan sakitnya prosesi kelahiran sebagai kompensasi kenikmatan sesaat yang pernah mereka lakukan di awal dahulu dengan sang pacar.

Desa ini berada cukup jauh dari keramaian serta aksesibilitas masih terbilang kurang memadai mengingat jauhnya lokasi desa dengan jalan arteri primer. Masyarakat harus menempuh satu setengah jam perjalanan normal untuk mencapai jalan utama kabupaten. Sekarang jalan menuju desa itu sudah lumayan bagus dengan aspal, dahulu kondisinya masih makaddam. Mayoritas masyarakat hidup dari hasil bertani dan berternak. Ada beberapa nama tokoh (yang kini sudah sepuh) berhasil keluar dari desa itu, kemudian terbilang sukses di tanah rantau. Namun perkembangan kehidupan masyarakat, terutama para pemuda di zaman modern ini, membuat suasana desa makin suram. Makin sedikit pemuda yang memiliki impian, makin sedikit pemuda yang berani menggantung mimpi di langit untuk sekedar membayangkan bagaimana rasanya sukses di usia tua. Sebaliknya, makin banyak pemuda yang sok menjadi ‘penguasa kampung’, semakin banyak pemuda yang berteman dengan miras dan judi, semakin banyak pemuda yang berani menggantung masa depan pacarnya dengan merampas kehormatan diri dan keluarganya.

Menurut sumber yang menceritakan ke saya, fenomena tersebut sudah terjadi sejak lama.

SERBA SALAHNYA PEMUDA ZAMAN SEKARANG (ALL ABOUT RELATIONSHIP)






Zaman sudah berubah, pergaulan pun makin bebas. Kenyataan itu kemudian diperparah dengan laju perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, baik berupa gadget, internet, maupun media sosial. Ada semacam tren yang dibentuk dalam ikatan pergaulan, bahwa pacaran merupakan sebuah keharusan. Pacaran dianggap sebagai sesuatu yang membanggakan, memiliki pacar seakan hukumnya fardhu ‘ain. Jika ada anak muda yang berpikir untuk tidak memiliki pacar, baik itu untuk kepentingan studi maupun karena memang didikan keluarga, maka dia akan dicap sebagai orang kampungan dan berpola pikir kolot.

Para pemuda yang terkena virus dari doktrin para pemuja pacaran akan merasa tersiksa jika tidak segera memiliki pasangan. Jomblo jadi sebutan paling menakutkan yang paling tidak ingin didengar oleh mereka. Keluar jalan-jalan sendiri di malam minggu jadi pemandangan tak biasa di zaman sekarang. Jika pun keluar berdua dengan sesama jenis, bisa-bisa dituduh homo, sungguh serba salah rasanya hidup ini. Mungkin ejekan atau cibiran itu tidak disampaikan secara langsung, tapi mereka bisa menyerang para jomblowan dan jomblowati melalui media sosial. Media sosial sudah menjadi strategi ampuh, selain bisa untuk mem-bully teman, wadah curhat, hingga kegiatan pencitraan para calon elit politik.

Selasa, 10 Februari 2015

Why Always BANK?



Wuih, judulnya keren ya! Jangan underestimate dulu, baca sampai akhir baru disimpulkan. Judul itu terinspirasi dari why always me-nya Mario Ballotelli, ketika dia merumput bersama klub Manchester City dulu. Jika saya perhatikan di Bima, bukan saya saja sih, Anda juga bisa melihatnya sendiri, bahwa makin banyak kantor bank yang dibangun. Bank apa yang belum ada di daerah kita tercinta? BNI 46 sebagai bank tertua di Indonesia ada di sini, BRI sebagai bank daerah yang dikenal merakyat ada juga, Mandiri sebagai bank dengan aset paling besar di Indonesia juga ada. Itu baru seberapa. Belum lagi ditambah Bank Danamon, Sinarmas, BNI Syariah, Mandiri Syariah, BRI Syariah, Bank Pundi, Bank Perikanan, Bankrut #upss (kalau ada yang lain mohon ditambahkan, hehe).

Baguskah jika ada fenomena menjamurnya bank seperti ini di daerah? Saya juga tidak tahu, toh saya bukan ahli ekonomi kok! Yang jelas kondisi itu menandakan bahwa aliran uang sekaligus arus hutang orang Bima Raya ini cukup menjanjikan bagi pihak bank. Kenapa? Orang disini terkenal ‘berani’ minjam uang bank. Belum genap satu tahun jadi PNS saja sudah langsung ajukan pinjaman. Kalau bisa pas pengumuman lulus PNS itu kita langsung ke bank saking sudah mindset kita dengan dunia perbankan sudah tidak bisa terhindarkan. Heuheu.. Bank itu ada yang dikategorikan bank kecil dan bank besar tergantung dari total asetnya masing-masing. Nah, faktanya di Bima Raya ini bank dengan nilai aset yang kecil saja berani masuk dan bersaing, apalagi bank besar. Logikanya, bank kecil tetap mendapat klien yang cukup memadai dari jumlah penduduk Bima Raya yang mencapai sekitar 430 ribu jiwa.

Minggu, 16 November 2014

MASA TRANSISI ITU TETAP ADA



Sudah banyak kata-kata mutiara yang terungkap oleh para kalangan bijak untuk mengungkapkan filosofi dari proses perubahan. Ya, dunia ini berubah! Gaya hidup, ukuran tubuh, keuangan negara, teknologi, penguasa kerajaan, dan lain-lain; semua berubah. Ungkapan paling keren tentang perubahan itu adalah “tidak ada yang tidak berubah di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri”. Semua karena Tuhan menjamin bahwa salah satu ciri makhluk hidup adalah dia bergerak, tumbuh, dan berkembang biak. Hanya dengan berubah kita bisa mengimbangi perubahan, hanya dengan berubah kita bisa mensejajarkan diri dengan keinginan alam dan juga amanat Tuhan. 

Tentu saja, kita semua punya impian dan harapan. Hidup bukan hanya untuk numpang makan, minum, dan buang air, sambil menunggu datangnya panggilan untuk kembali kepada Pencipta kita. Orang tua kita keras mendidik mulai dari rumah, kemudian menyekolahkan di institusi pendidikan terbaik, lalu dengan berderai air mata mereka melepas kita untuk melanjutkan studi ke luar daerah. Itu semua karena apa? Karena mereka juga punya naluri untuk merubah anaknya. Ketika anaknya berubah, mereka tahu bahwa nasib mereka juga akan berubah. 

Selasa, 07 Oktober 2014

KOTA BIMA; MILIK YANG TUA, TANGGUNG JAWAB YANG MUDA

Jangan mengkritik orang bodoh, karena dia akan membencimu. Tapi kritiklah orang berakal, karena dia akan mencintaimu.. (Sayyidina Ali)
 Setiap hari saya berpikir keras bagaimana caranya agar Kota Bima bisa cukup ramah bagi generasi yang akan datang. Biarkan kita yang menanggung panasnya terik matahari yang selalu menyengat lebih dari 35 derajat celcius setiap hari di musim panas. Biarkan kita yang menanggung perguliran musim kemarau dan hujan yang semakin tak menentu. Biarkan kita yang mengecap air bah (banjir) yang sudah tidak malu-malu lagi merembes ke jalan raya, banjir yang sudah tidak segan memnghanyutkan rumah-rumah kayu non-permanen milik penduduk.

Sesungguhnya tiada sesuatu yang terjadi tanpa sebuah alasan, tiada aksi tanpa reaksi, pun tiada yang kita tanam melainkan kita akan memetik hasilnya. Dan hingga detik ini pun kita belum tersadar akan semua itu; apa dampak dari deretan pohon rindang di pinggir jalan yang dibabat habis? Apa dampak dari pegunungan hijau yang dibakar dengan ribuan alasan klise? Apa dampak dari pembangunan komersial yang mengesampingkan daerah resapan air? Apa dampak dari sampah rumah tangga yang dibuang dengan egois di sepanjang daerah aliran sungai? Generasi kita perlu bertanggung jawab atas apa yang disebut sebagai “nasi hampir menjadi bubur” tersebut.

Jumat, 11 Juli 2014

Anda Lebih Suka Meng-kritik ATAU Di-kritik? Renungkan Tulisan Ini!

Kehausan kita akan persetujuan, sama besarnya dengan ketakutan kita terhadap kritik.
 (Hans Selye)

Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua.. Salam lima jari! Heuheu..

Apa topik yang sedang menjadi tren di Indonesia? Ya, sembilan puluh sembilan dari seratus orang akan menjawab : Pemilu Presiden-Wakil Presiden. Saya pribadi sudah punya pilihan, tapi tetap tidak mau terpancing untuk masuk dalam kisruh fanatisme yang berlebihan.

Sebenarnya tulisan ini tidak memfokuskan pada kegiatan pemilu, namun lebih umum lagi terkait dampak dari sebuah kritikan terhadap kejiwaan seseorang. Tema menarik ini terilhami dari buku How to Win friends and Influence People, karangan Dale Carnegie, yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia judulnya jadi : bagaimana mencari kawan dan mempengaruhi orang lain. Apa pesan inti dari buku itu? Baru membaca bab pertama saya sudah tercerahkan dibuatnya. Jadi yang saya tulis ini hanya kandungan ilmu di bab pertama! Bagi yang sudah pernah membaca dan memahami isi bukunya, silahkan di skip saja tulisan ini. Heuheu..

Ada 3 prinsip yang harus diperhatikan dalam teknik mendasar untuk menangani manusia. Ketiganya bisa jadi sangat efektif sebagai cermin untuk kita berkaca kembali dan menata ulang sikap yang terlanjur membuat hubungan kita dengan keluarga, teman, sahabat, kerabat, pacar, atau selingkuhan (#upss) hancur berantakan.


Prinsip I : jangan mengkritik, mencerca, dan mengeluh


Percaya atau tidak, seorang penjahat pun tidak akan suka kalau dikritik. Mau bukti? Tiga orang pembunuh paling kejam yang pernah ada di Amerika (Crowley, Al Capone, dan Dutch Schultz), ketika mereka berhasil ditangkap oleh polisi, sama sekali tidak pernah menyalahkan diri sendiri atas kejahatan keji yang pernah mereka perbuat. Crowley sesaat sebelum dihukum mati mengatakan bahwa di balik bajunya yang gelap ada hati yang tidak tega menyakiti orang lain. Al Capone mengatakan dia berbuat jahat untuk membantu masyarakat miskin mendapat keadilan. Sedangkan Schultz memberikan julukan untuk dirinya sendiri sebagai dermawan publik.

Pemuda, Pembangunan, dan Kemerdekaan

Potensi Pemuda Sang Proklamator, Soekarno, begitu menekankan pentingnya peran pemuda. Ungkapannya yang biasa diulang oleh kita sekarang “ ...