Aku adalah anak sulung dari 3 bersaudara. Kedua saudaraku saat ini sedang mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Sedangkan aku baru saja diwisuda 2 bulan yang lalu. Selama ini aku merasa orang tua sungguh sangat berat membiayai 3 anaknya sekaligus yang kuliah (walaupun mereka enggan mengakui). Mereka sosok yang benar-benar tegar. Hanya ayahku yang bekerja, sedangkan ibu mengabdi sepenuhnya untuk urusan rumah tangga. Hal itu kemudian sering melecut semangatku untuk mendapatkan pekerjaan sesegera mugkin. Tak kurang dari 20 kali aku mencoba melamar pekerjaan di perusahaan swasta, tetapi seringkali gagal. Aku tidak pernah menyesal telah ikut dalam bursa-bursa kerja tersebut, aku bisa menambah wawasan tentang dunia kerja. Toh, akhirnya saat ini aku bisa menemukan pekerjaan yang memang aku gemari, jobnya sesuai dengan jurusanku. Aku menyadari satu hal : "ketika sebuah harapan tidak sesuai dengan kenyataan, maka Allah sedang menyediakan sesuatu yang lebih baik di balik semuanya".
Rabu, 27 Februari 2013
^_^ LIKA-LIKU JOBSEEKER (Based On Personal Funny True Story)
Aku adalah anak sulung dari 3 bersaudara. Kedua saudaraku saat ini sedang mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Sedangkan aku baru saja diwisuda 2 bulan yang lalu. Selama ini aku merasa orang tua sungguh sangat berat membiayai 3 anaknya sekaligus yang kuliah (walaupun mereka enggan mengakui). Mereka sosok yang benar-benar tegar. Hanya ayahku yang bekerja, sedangkan ibu mengabdi sepenuhnya untuk urusan rumah tangga. Hal itu kemudian sering melecut semangatku untuk mendapatkan pekerjaan sesegera mugkin. Tak kurang dari 20 kali aku mencoba melamar pekerjaan di perusahaan swasta, tetapi seringkali gagal. Aku tidak pernah menyesal telah ikut dalam bursa-bursa kerja tersebut, aku bisa menambah wawasan tentang dunia kerja. Toh, akhirnya saat ini aku bisa menemukan pekerjaan yang memang aku gemari, jobnya sesuai dengan jurusanku. Aku menyadari satu hal : "ketika sebuah harapan tidak sesuai dengan kenyataan, maka Allah sedang menyediakan sesuatu yang lebih baik di balik semuanya".
Jumat, 01 Februari 2013
ELEGI SEPI DI BALIK AWAN HITAM
Waktu kemudian hilang dibalik awan hitam..
Setia menunggu pelangi kehidupan..
Mecuat dari lorong gelap yang pekat..
Disini kuberharap hujan lebat..
Hingga tak ada jejak-jejak maksiat..
Tak ada pendar-pendar pikiran bejat..
Hari ini tetap kujejakkan kaki, begitu kuat..
Menyusun ratusan puzzle hidup yang begitu rumit..
Tercecer di lembaran pahit zaman..
Ini masa dimana kejahatan begitu di-dewa-kan..
Ini masa dimana tempatnya ketidakadilan..
Ini masa,, gerbong menuju kemerosotan..
ah, lihat raut wajahku saat ini, menyedihkan..
Aku hanya sehelai rambut di tengah lautan jerami..
Menatap kosong berbagai tragedi hidup..
Entah apa arti semuanya..
Kucoba terjemahkan lewat kesendirian..
Saat ini,, hanya sepi yang bisa kupercaya..
Selasa, 29 Januari 2013
MEMORI TENTANG BINTANG
Gelap menghampiri diri..
Menghembuskan desah kebimbangan..
Aliran itu perlahan, datang menghujam..
Aura ini masih dan selalu sanggup balikkan segalanya..
Mimpi tentang cita, harapan pada cinta..
Kobaran semangat untuk maju, suara hati untuk berjalan..
Goresan tinta tak lebih hanya wujud ketidakpuasan..
Untuk waktu, tenaga, pikiran yang tersia-siakan..
Malam ini bintang serentak menertawakanku..
Menunjuk tegas keningku sebagai pelaku kebodohan..
Knapa untuk waktu kau banyak siakan??
Kenapa untuk tenaga tak kau maksimalkan??
Dan.. Kenapa pikiran kau lenakan??
Makanan pun kini sudah terlanjur basi..
Merengek terhadap perubahan..
Mendendam atas kecerobohan..
Begitu amat pilu terasa disini..
Di kamar penuh memori..
Terbujur lemah,, menatap bintang lagi..
Rabu, 16 Januari 2013
CINTA IBU TAK TERGANTI
Kutatap seraut wajah penuh cahaya..
Mata yang pancarkan sejuta kasih..
Begitu damai dunia dalam peluknya..
Tak ingin lepas walau ribuan tetes embun janjikan kesejukan..
Goresan penaku selalu tetang dirinya..
Tentang kebanggaanku lahir dari rahimnya..
Namun semakin aku berusaha menuliskan..
Kurasakan kertas dan tinta ini tak akan cukup..
Kadang terlihat olehku matanya sembab..
Terisak untuk sekedar mengadu..
Betapa dunia tak lagi bersahabat..
Mengubur banyak impian akan kebahagiaan..
Ibu..
Sungguh kau malaikat bagiku..
Berjuang menghidupiku seorang diri..
Terkadang aku menyesali tentang keluarga yang tak lengkap..
Sementara kau selalu ajarkan ketulusan padaku..
Ibu..
Lihatlah diriku sejenak..
Putra kecilmu ini sedang merajut harapan..
Tak ingin lagi kulihat air matamu..
Janjiku akan selalu bahagiakan hari tuamu..
Minggu, 13 Januari 2013
KASIH DARI SURGA
Pendar kemilau cahaya matahari pagi
Terduduk masih dalam bayangan rembulan malam tadi
Hembusan nafas perlahan nan panjang, mungkin tenangkan hati
Lamunan tiada berhenti datang silih berganti
Wajah-wajah yang sangat kukenal bergelayut lagi
Menggantung kaku di ujung mata yang membentuk bias pelangi
Hanya deraian air mata kerinduan sbagai jawaban pasti
Atas ribuan memori kenangan yang tercetak rapi
Atas doa yang masih tetap dipanjatkan, agar aku bahagia sebelum menyusul mati
Atas titipan patuah yang seakan tak pernah hanyut bersama badai hidup ini
Mereka sungguh hebat, tak henti lisanku meracau memuji
Sebuah keindahan hidup, dan tak akan terganti
Peluk seluruh keresahanku, hidup tlah penuh dengan duri
Yakinkan aku bahwa kasih sayang kalian masih menemani
Hingga kelak aku bisa untuk sekedar melukis sketsa kebahagiaan surgawi
Jumat, 11 Januari 2013
SKETSA KELAM
Telah penuh pikiran ini tentang mereka
Jiwa-jiwa yang mengajari dosa
Manusia diperbudak masa lalu
Mencoba bangun peradaban sendiri
Teriakan, caci-maki, menyulut kebengisan totaliter
Bergidik saat kucoba kembalikan angan
Dahulu, di era sembilan belas tiga tiga
Melangkahi jutaan mayat sudah biasa
Menghitung hari untuk menjemput hal yang sama
Rasisme mendasari pembenaran atas pembunuhan
Teori luar biasa pengaruhi kaum lemah yang bodoh
Saat para tetua sakit di tiang gantungan
Air mata ini berubah merah, berdarah
AGAMA ABAD DUA PULUH
Suara desing peluru abad dua puluh
Menembus paru tak sisakan teriakan
Mimpi menghidupkan manusia dalam satu bendera
Tahukah kalian siapa mereka
Sudikah kalian menatap wajah
Yang dengan satu tatapannya kau terkulai lemah
Hidup rakyat kecil hanya diperbudak
Melawan pun kau mati sbagai budak
Pasti...
Prahara besar datang dari pikiran picik
Mengumbar kepandaian berbulu kelicikan
Mendogma-kan agama dari modal kekafiran
Agama ajarkan kasih sayang, namun mreka membunuh
Agama ajarkan memberi, namun mereka merampas
Agama anugerahkan perdamaian, tapi mereka kobarkan perang
Tuhan..
Jaga manusia yang hidup sekarang..
Agar tidak pernah ada lagi kepicikan dan kefasikan..
Langganan:
Postingan (Atom)
Pemuda, Pembangunan, dan Kemerdekaan
Potensi Pemuda Sang Proklamator, Soekarno, begitu menekankan pentingnya peran pemuda. Ungkapannya yang biasa diulang oleh kita sekarang “ ...
-
A. PENDAHULUAN Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, Pemekaran Wilayah dapat diartikan sebagai s...
-
Potensi Pemuda Sang Proklamator, Soekarno, begitu menekankan pentingnya peran pemuda. Ungkapannya yang biasa diulang oleh kita sekarang “ ...
-
Tiga kata yang menarik untuk dicermati saat ini : Cinta, Pemuda, dan Malam Minggu-nya. Layaknya trisula maut dalam klub sepakbol...






