Minggu, 09 Februari 2014

Lomba Lari Hanya Pakai Bra, Kedok Kesehatan!





Memikirkan segala hal yang bertema kesehatan di zaman sekarang selalu membuat saya termenung. Ada-ada saja pemberitaan yang memicu tanda tanya, kontroversial dan cenderung ke arah aneh. Kedok kesehatan selalu digunakan oleh pakar-pakar tertentu untuk mengaburkan sesuatu yang lebih bermakna di balik itu semua. Contohnya saja tentang bahaya merokok. Para pakar menyatakan bahwa merokok dapat membunuh manusia secara perlahan, sebab terdapat ribuan zat adiktif berbahaya di dalam setiap batang rokok. Perokok akan memiliki usia yang relative pendek dari pada yang tidak merokok? Benarkah? Berarti yang merokok lebih cepat mati? Pada seminar bertema kebangsaan di kampus Unpad Bandung, Bupati Purwakarta pernah berseloroh : “pernyataan ahli kesehatan luar negeri itu hanya bernada kecemburuan semata. Tidak benar itu kalau merokok berhubungan dengan usia, toh kakek saya perokok hingga usia lanjut tetap eksis tuh. Mereka hanya iri karena tembakau Indonesia kualitasnya nomor wahid!”. Selain itu, para ulama PBNU tidak akan mengharamkan rokok hingga hari kiamat. Terdapat 4 alasan yang beliau-beliau kedepankan. Kalau tidak percaya, silahkan cek di harian merdeka online tertanggal 17 Desember 2013.

Selasa, 04 Februari 2014

[Pendidikan & Pembudayaan] Saya Senada dengan BJ Habibie




Pada sore hari ini para pilar pergerakan organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) bersilaturahim ke kediaman BJ Habibie di kawasan Kuningan. Kegiatan sowan ini yang wajar dilakukan oleh anggota organisasi kepada salah satu Dewan Kehormatannya. Silaturahim membicarakan seputar komitmen ICMI untuk tetap menjadi motor terdepan dalam menghadirkan manusia-manusia unggul demi masa depan Indonesia, dengan berada pada satu wadah organisasi, mereka kudu melepas atribut partai masing-masing jika berada pada pesta demokrasi 2014.

Jenius yang Terasing

BJ Habibie menurut saya pribadi adalah sosok jenius yang, entah kenapa, diasingkan oleh bangsanya sendiri. Seorang yang memiliki revolusi berpikir tingkat tinggi, namun tidak mendapat penghargaan yang semestinya disini. Kenapa lantas negara sekelas Jerman bisa menggunakan kemampuan dan jasa BJ Habibie jika memang kemampuan beliau remeh? Saya sangat berharap beliau bisa memimpin negara ini sekali lagi. Beliau sungguh salah satu idola dari sudut pandang seorang negarawan.

SBY-Indah, Analogi Politik dari Sebuah Bus



Salam sejahtera buat anda para pembaca..


Ah, rasa-rasanya pembicaraan akhir-akhir ini dipenuhi dengan topik politik yang seakan tiada habisnya. Seakan hidup rakyat kita tidak bisa lepas dari politik, sangat mainstreamsekali. Mungkin jargon ‘hidup tanpa politik, bagai sayur tanpa kuah’ cocok buat menggambarkan kondisi ini. Kita kadang tahu bahwa ikon perpolitikan sudah banyak yang menjadi pion dari kepentingan barat. Nah, ketika setiap hari-setiap jam-setiap menit kita membahas ikon itu, maka secara tidak sadar kita sedang mengikuti alur kepentingan tadi. Maka, dengan kata lain, ketika kita cuek dengan isu politik barang satu hari saja maka mereka akan bingung.. Hehe.. Salah satu upaya agar pembahasan tidak mengarah pada suatu yang mainstream, maka ada baiknya aku membahas sebuah topik yang lain. Topik yang menyegarkan tentunya..

SBY-indah merupakan bus AKDP (Antar Kota Dalam Propinsi) di NTB. Bus ini bukan milik presiden atau milik Kota Surabaya. Trayek yang dilayani sebatas Bima-Mataram. Bus ini sudah lama beroperasi, setia melayani penumpang, bahkan jauh sebelum masa presiden SBY menduduki jabatannya. Jika presiden SBY dalam naungan partai demokrat sering keluar trek dalam menyelenggarakan pemerintahan, maka bus ini dalam naungan PO. SBY-Indah tetap konsisten melayani dengan rute yang tetap, tidak pernah mencari jalur lain.




Senin, 03 Februari 2014

[Sosok] Gus Dur “Addakhil”, Sebuah Warna Pemerintahan Indonesia




Selayang Pandang

Menulis tentang sosok kyai selalu punya tantangan tersendiri jika dilakukan dalam negeri kita yang sangat agamis. Lebih dari itu, kita hidup di negara dengan penduduk Islam paling besar di dunia. Aku pun kini berada di Jawa Timur, yang notabene punya sejuta pesona berbagai pesantren, ‘rumah’ bagi ribuan ulama besar. Aku ingin lebih khusus membahas mengenai sosok ulama kharismatik kelahiran Jombang, sekaligus bapak presiden kita yang keempat setelah Soekarno, Soeharto, dan Habibie. Beliau lahir sebagai Abdurrahman Addakhil (“addakhil” = penakluk), tetapi karena tidak cukup dikenal maka diganti menjadi Abdurrahman Wahid. Beliau lahir dari keturunan ulama besar Jawa Timur sekaligus pemimpin Nahdatul Ulama (NU), ayahnya bernama Kyai Wahid Hasyim, kakeknya adalah Kyai Haji Hasyim Asy’ari; para ‘dedengkotnya’ NU. Lahir dari keluarga terpandang, membuat Wahid kecil tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, penuh kekuatan spiritual, elegan, dan mengerti problema umat.

Abdurrahman Wahid ibarat keladi, makin tua makin jadi. Beliau setelah dewasa lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur (Gus panggilan elegan dan penghormatan bagi ulama di Jawa Timur). Alur karirnya dalam dunia politik dibangun dari basis agama, dimana saat itu kaum ulama dan pesantren memegang kendali yang besar dalam tatanan negara. Perlahan namun pasti, beliau meraih dukungan kalangan ulama seluruh Indonesia untuk maju menjadi RI-1. Arah yang jelas baginya, mengingat sebelum berhasil menjadi presiden, beliau aktif di berbagai forum dan perhimpunan pergerakan. Beliau juga tidak sulit mengambil-alih kursi kepemimpinan NU setelah periode sang ayah. Gus Dur menjadi ketua NU selama 3 periode berturut-turut sebelum akhirnya menduduki kursi presiden. Gus Dur diakui sebagai revolusionis dalam tubuh NU, dan selalu disegani oleh presiden Soeharto pada masa itu.

[Unik] St Thomas di Jepang, Mahasiswanya Hanya Satu Orang



Universitas St. Thomas adalah salah satu perguruan tinggi yang ada di Jepang. Civitas academika ini harus aku katakan sebagai salah satu yang punya kebijakan unik. Bagaimana tidak, konsistensinya disorot setelah berita tentang jumlah mahasiswa yang bersedia kuliah disana hanya terdiri dari satu orang. Hal ini terkait dengan kebijakan pihak kampus sendiri. Pada awal berdirinya mereka hanya membuka program studi Interpersonal dan Pemahaman Lintas Budaya. Prodi ini kurang diminati. Akhirnya pihak kampus menggantinya dengan prodi baru, yaitu Pendidikan dan Ilmu Kesehatan Internasional. Awalnya sih, banyak yang berminat. Namun, prodi yang tidak kunjung mendapatkan lisensi (kalau di Indonesia namanya akreditasi), akhirnya semua mahasiswa pindah dari St Thomas, hingga menyisakan satu orang mahasiswa saja.

Jumat, 31 Januari 2014

Nyari Pasangan? Terapkan Filosofi Tangkap Ayam ini!



Ada sebuah kisah menarik yang kalau boleh saya bagi kepada rekan kompasiana sekalian. Kisah yang membawa pada sebuah kesimpulan bijak. Semoga bermanfaat. :)

Aku punya seorang sahabat (Geri—nama samaran), dia masih menempuh kuliah di salah satu perguruan tinggi Yogjakarta. Dia sudah lama tidak punya pacar alias nge-jomblo (tapi dia bersikeras tidak mau disebut jomblo, tapi single). Tepatnya dia sudah tidak pernah lagi merasakan nikmatnya pacaran sejak lulus SMA, berarti udah hampir 4 tahun. Wow! (padahal aku sendiri juga gitu). Hmm, mungkin akibat sudah lama tidak pacaran ini, sehingga Geri menjadi sangat obsesif. Dia sangat berkesan dengan film “Habibie-Ainun” yang kira-kira berkisah tentang romantisnya kehidupan seorang professor Habibie dan dokter Ainun itu. Jadilah Geri, yang sekarang masih mahasiswa semester tingkat akhir jurusan teknik, kian terobsesi mencari seorang wanita yang kuliah di kedokteran. Dia yakin bisa mendapatkan apa yang diinginkan itu. Nah! Setelah keyakinan itu ditanamkan secara mendalam di dasar hatinya, maka dia mulai menjalankan aksi.

Mission Ambune Impossible

Adalah 3 orang wanita (sebut saja Sinta, Santi, dan Sinti) yang masih teman kami juga, coba didekati oleh Geri. Ketiga wanita tadi sama-sama kuliah di kedokteran umum, namun pada perguruan tinggi yang berbeda kota. Sinta didekati terlebih dahulu, namun Sinta tidak pernah memberi harapan. Geri malah dinasehati bahwa diusia segini sudah tidak asyik lagi dipakai buat pacaran, nyari pasangan langsung nikah aja.Geri tidak mau menyerah, tiap hari dia nelpon ngajakin Sinta langsung nikah setelah selesai kuliah. Sinta yang merupakan gadis baik selalu dengan sabar mengatakan bahwa tidak ada perasaan yang berlebih pada hatinya. Lama-kelamaan Geri patah semangat, dan menjauh secara perlahan.

Tidak lama berselang, Geri kemudian mencoba peruntungan dengan mendekati Santi. Kali ini Geri lebih mudah melakukan pe-de-ka-te, sebab Santi berada satu kota dengannya. Santi lebih mewah hidupnya dari Sinta, body-nya pun lebih bahenol. Geri sudah kenal lama dengan Santi ini, malah sudah sangat akrab, namun baru kali ini dia mencoba menyatakan cinta. Pertama, karena Santi baru saja 3 bulan putus sama pacarnya; kedua, demi obsesi pribadinya terhadap mahasiswa kedokteran. Apalah yang mau dikata, ketika cinta telah dinyatakan, bukan penerimaan yang didapat. ‘Maaf Ger, aku sudah anggap kamu teman, tidak lebih, aku sudah tahu semua baik-buruknya kamu, tidak akan cocok dengan aku sampai kapanpun. Lebih baik kita berteman saja’. Degg! Ungkapan yang sama datang dari Sinti, ketika Geri mengalihkan incaran padanya. Sinti adalah adik tingkat Geri ketika SMA. Geri ingin mencoba peruntungan dengan menembak gadis di bawah umur [dibawah umurnya dia maksudnya]. Sinti ternyata tidak pernah suka sama Geri!

Syair Teruntuk Korban Banjir





Tetes air mata tiada henti membasahi pipi..
Memandang jenuh air surut selutut kaki..
Banyak sudah harta kami raib dibawa pergi..
Anak semata wayang pun hanyut terbawa lari..
Oleh deru amukan bah semalam tadi..

Kepingan takdir datang keras mengkerak..
Hendak jiwa kubiarkan berteriak..
Namun tubuh ini kaku, kelu, enggan bergerak..
Tetanggaku, kampungku, semua histeris berontak..
Aku tak bisa, hanya istri kini bersandar di pundak..

Aku ingin berduka, menumpah segala asa..
Aku ingin kecewa, menghina sebuah sandiwara..
Aku ingin putus asa, meregang sendiri tali nyawa..
Seketika kelebat hitam hadir ingatkan dosa..
Dosa, kegemaran setiap umat manusia..

Insan bijak banyak bertanya..
Adakah banjir ini salah siapa..
Apakah tata ruang serta rencana kota..
Sungguh, tidak ada apa dan bagaimana..
Hanya manusia yang sudah lupa kodratnya..

Kusadari kini kelalaian datangkan cobaan..
Untuk yang memuja ‘berhala’ kejahatan..
Untuk yang menggilai haramnya obat-obatan..
Untuk yang membabi buta tebang hutan..
Untuk yang rakus korupsi di pemerintahan..

Kini, aku tak berharap dikunjungi kepala negara..
Alihkan saja uang jalan agar terbebas kami dari lara..
Kampung ini kian kumuh bagi tamu istimewa..
Biarlah kami saja yang menderita..
Tak perlu kalian memakai topeng pura-pura..

Wahai, Tuhan Yang Mendengarkan..
Datangkan banjir ini untuk kebaikan..
Hapuskan dosa dan kekejian..
Gantikan generasi penuh kebobrokan..
Hingga negeri aman penuh kedamaian..

Pemuda, Pembangunan, dan Kemerdekaan

Potensi Pemuda Sang Proklamator, Soekarno, begitu menekankan pentingnya peran pemuda. Ungkapannya yang biasa diulang oleh kita sekarang “ ...